Oktober 03, 2012

Setelah Kau Menikahiku 2 (Pernikahan Simulasi Part 2)

0 komentar

 

Tiga hari pertamaku sebagai istri Idan --simulasi-- kulewatkan di rumahku sendiri. Tiga hari berikutnya dilewatkan di rumah Idan, karena kondisi ibunya, yang memang telah sangat lama sakit, memburuk; mungkin karena ketegangan yang disebabkan persiapan acara pernikahanku dengan Idan.

Pada hari ketujuh kami pindah ke rumah milik Idan sendiri. Dan setelah seharian menata perabotan, memasang tirai dan beragam pajangan, malam itu kami lewati dengan tidur.

Esok paginya, aku terbangun karena mendengar suara-suara di dapur. Aku menemukan Idan di sana, sedang mendadar telur, sementara di atas meja terhidang nasi goreng dan sepoci kopi yang harumnya menggoda.

"Aku ada rapat pukul se tengah delapan," seru Idan sambil membalik dadar telurnya. "Aku mesti berangkat sebelum setengah enam."

Kucicipi nasi goreng buatannya. "Aku tidak tahu kau pintar memasak."

"Pramuka," komentar Idan ter senyum. Diletakkannya telur di atas meja dan ia duduk untuk sarapan. "Aku juga pandai tali-temali, semafor, menjahit."

"Percaya, percaya. Kalau kau mau menangani urusan masak, aku akan memperbaiki keran dan genting bocor, plus membabat rumput."

Idan terbahak. "Ini hanya sekali-sekali, Pit. Aku tidak mungkin masak setiap pagi."

"Apalagi aku. Kita perlu cari pembantu."

"Jangan," Idan menggeleng. "Ia pasti curiga kalau melihat kita tidur di kamar berbeda."

"Jadi?"

Idan menggaruk kepalanya. "Bisakah kau masak nasi tiap hari?" pintanya.

"Aku punya rice cooker."

Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya sebuah permainan. Tidakkah Idan akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya? Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang istri, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.

"Kalau kau mau membawakan lauk dan sayur bergantian denganku, baik."

Ia tersenyum dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah bolpoin merah. Dilingkarinya tanggal hari itu di kalender yang tergantung di dinding dapur.

"Hari pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga," katanya saat kembali ke kursinya.

"Masih banyak detil-detil seperti ini yang mesti kita sepakati," lanjutnya. "Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku kalau kau akan pulang terlambat."

Dahiku berkerut. "Untuk apa?"

"Apa kau tidak melapor kepada orang tuamu kalau kau akan pulang terlambat?"

Aku menggeleng. "Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang bodoh."

"Tapi aku suamimu. Simulasi memang. Aku perlu tahu kenapa dan di mana kau kalau pulang terlambat."

"Kau kedengaran seperti diktator."

"Kurasa aku tidak minta terlalu banyak."

"Itu terlalu banyak untukku."

Idan meletakkan sendoknya dan menatapku dengan mata menyala. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya marah. Tapi aku yakin aku tak salah membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar marah.

"Ingat," lanjutku hati-hati. "Aku bukan benar-benar istrimu. Kau tidak punya hak untuk mengaturku seperti itu."

Ia menunduk lama sekali, tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang makan itu menjadi sangat sunyi senyap. "Baik. Kalau itu maumu," desisnya kemudian.

Kami melanjutkan sarapan dalam diam. Aku ingin mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan Idan memburuk. Tapi aku tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Idan akan semakin berang karenanya.

Idan meninggalkan meja tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama ia kembali menemuiku di ruang makan.

"Aku pergi, Pit," katanya dingin.

Aku bangkit dari meja menghampirinya, berniat untuk memperbaiki situasi. "Sebagian teman-temanku menyarankan ini," ujarku sambil meraih tangan kanan Idan dan menempelkannya di bibirku. "Kupikir ada baiknya kucoba. Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium keningku."

Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Dasar tidak tahu terima kasih!

Aku sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan pulang kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang pasti diberondongkan kawan-kawan yang biasa bersamaku menghabiskan sore hari.

Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku. Aku tahu Idan telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, mesti kuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Idan sebagai suamiku. Bagiku, ia hanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu banyak.

Mataku tertaut pada cincin emas mungil yang disisipkan Idan di jari manisku selepas akad nikah. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalam permainan ini, Idan adalah suamiku. Dan sebagai suamiku, tuntutannya wajar. Kalau aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya satu pelajaran pertama dari permainan ini. Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku benci kekalahan. Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu hal dari semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan. Getir memang. Aku yakin Idan akan menertawaiku. Kalau ia tidak marah-marah dulu.

Alangkah terkejutnya aku mendapati rumah gelap dan kosong. Sudah pukul setengah dua belas malam dan Idan belum pulang?

Kucoba menghubungi ponselnya dan hanya mendapati mailbox. Dengan menggunakan berbagai tipu daya, memperhitungkan lemahnya kondisi ibu mertuaku, kutelepon rumahnya. Aku bahkan mencoba mengontak kantornya, tanpa hasil. Idan tidak ada di mana-mana.

Inikah balasannya atas penolakanku tadi pagi? Kekanak-kanakan sekali!

Tapi tak urung, dengan melarutnya malam, aku jadi semakin cemas. Apalagi hingga pagi Idan tidak kembali. Ia bahkan tidak pergi ke kantor. Aku minta izin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang dibuat-buat.

Tapi saat aku tiba di rumah, Idan tetap tidak ada. Malam itu kulewatkan di sisi telepon, berpikir untuk menghubungi polisi dan rumah sakit. Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas dibenakku saat aku mengangkat receiver.

"Upit?"

"Idan?" jeritku. "Kau di mana?"

"Pit, aku minta maaf karena marah dan minggat begitu saja. Boleh aku pulang?"

"Idan, ini rumahmu!" meskipun aku tersenyum, air mata kelegaan mulai meleleh di pipiku. "Kau di mana?"

"Di luar."

"Di luar rumah?"

"Ya. Dan aku lapar."

"Oh, Tuhan...."

Aku lari ke luar rumah. Di gerbang kulihat Idan berdiri di sisi mobilnya. Entah sudah berapa lama ia di sana.

"Kau keterlaluan! Aku sudah berpikir untuk menelepon kantor polisi!" teriakku kepadanya.

"Aku juga rindu kepadamu!" balas Idan tertawa. Dan mataku rasanya semakin perih melihat tawanya lagi.

"Di mana saja kau dua hari ini?"

"Di hotel kecil dekat kantor."

Ia baru saja menghabiskan piring ketiga sop buntut kesukaannya. Ia tidak berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membeli semua makanan kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap. "Kenapa kau akhirnya memutuskan untuk pulang?" suaraku bergetar.

"Aku perlu baju bersih," ia tertawa malu. "Laundri hotel mahal sekali."

Saat ia mencuci piring makannya, dengan punggungnya ke arahku, ia menyambung, "Selain itu, aku khawatir karena kau sendirian di sini." Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu.

"Aku akan pulang terlambat besok," ucapku perlahan. "Aku harus lembur. Dikejar deadline."

Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik menatapku. Tapi mataku terpaku pada es krim di hadapanku.

"Oke," katanya. "Kau keberatan kalau aku makan malam duluan?"

"Asal kau sisakan cukup untukku," aku tersenyum.

Paginya kulihat lingkaran merah kedua di kalender.

Aku bisa mentolerir kebiasaan Idan membiarkan koran yang telah dibacanya berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya nonton film action --genre yang paling tidak kuminati, dan sepak bola? olahraga yang menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannyamengeluarkan pasta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak dari bawah seperti yang biasa kulakukan.

Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya menghabiskan akhir pekannya. Setiap Minggu pagi ia berangkat sebelum pukul enam untuk bermain sepak bola dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul setengah empat, ia pergi memancing.

Untukku yang selalu menghabiskan waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan, kebiasaan Idan itu sama sekali tidak bisa kupahami. Aku tak sanggup menontonnya main bola atau menemaninya memancing, karena aku dengan sangat cepat akan merasa jemu.

Sebulan pertama aku berusaha mengerti. Ia selalu pulang dengan mata berbinar hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi dipekan kelima kesabaranku tandas, dan pagi itu, saat ia tengah memasukkan botol air minum dan kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak memancing. "Temani aku jalan-jalan ke mal sore ini," pintaku.

"Kau kan bisa pergi sendiri," katanya sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil.

"Seingatku kau berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke manapun."

"Aku tidak bisa mangkir memancing hari ini, Pit," ia masih tetap tak memandang ke arahku, sibuk dengan sepatu bolanya. "Aku sudah janji dengan kawan-kawanku untuk mencoba tempat memancing baru."

"Kau bisa mencobanya minggu depan."

"Tadi malam tidak ada bulan, Pit. Ikan-ikan akan sangat rakus hari ini," ia tersenyum sambil melompat-lompat dengan sepatu bola barunya. "Aku bisa memecahkan rekor sepuluh kilo sore nanti!"

"Minggu depan voucher diskon salonku sudah tidak berlaku lagi," gumamku.

"Pakai voucher dariku saja," sahutnya ringan sambil mulai lari-lari di tempat. "Berapa diskon yang kau dapat dengan voucher itu? Kalau kuberi lima belas ribu cukup?"

"Idan! Itu hanya cukup untuk beli minum selama di salon."

"Aku bisa cukur rambut plus dipijit plus minum kopi dengan lima belas ribu."

"Oh, Tuhan!"

Idan berhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di pinggang. "Pit, kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi."

"Aku sudah cukup yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh cuma keluar dari rutinitas harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan."

"Jadi? Apa yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau bawakan aku oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan."

"Ini bukan masalah kau melarang atau tidak, Dan. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu teman."

"Kalau begitu ajaklah teman-temanmu."

"Sudah. Mereka punya acara sendiri-sendiri. Dengan suami-suami mereka."

Idan mengerutkan keningnya. "Kau mau melewatkan hari Minggu denganku?"

"Ya!"

"Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau boleh ikut ke lapangan sepak bola lagi. Aku akan senang kalau kau ada di sana."

"Idan!" jeritku. "Kau ini buta, tuli atau imbesil sih? Kau tahu aku benci sepak bola dan lebih benci lagi memancing!"

Mata Idan menyipit. "Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal," desisnya.

"Kupikir sudah waktunya kau mengalah sekali-sekali."

"Mengalah!" suaranya meninggi. "Apa aku masih kurang mengalah selama ini? Pit, kau sudah menyita enam kali dua puluh empat jam waktuku, apa kau tidak bisa memberiku...."

"Enam kali dua puluh empat? Enam kali dua! Kita hanya benar-benar bertemu dan bicara satu jam saat sarapan dan satu jam waktu makan malam!"

"Kita bisa mengobrol lebih banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan waktu denganku! Tapi tidak! Kau lebih memilih mengurung diri di kamar dengan Pavarotti dan Flamingo...."

"Placido Domingo! Maaf, Dan, waktuku terlalu berharga untuk dipakai menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau dua puluh dua orang memperebutkan satu bola kulit!"

"Setidak-tidaknya itu lebih jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu yang becek air mata itu!"

"Kau kekanak-kanakan!"

"Dan kau, Tuan Putri, kau egois!"

Ia menyambar tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu samping.

Aku masuk ke ruang makan dan membanting pintu di belakangku. Seperti inikah perasaan para istri setelah bertengkar dengan suaminya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Idan melakukan semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali sejak aku menikah --simulasi-- dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku, pulang dari kantor sesegera mungkin, memperhitungkan apa ia akan menyukai makanan yang kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya untukku ? Tidak!

Kubuka lemari es dan kukeluarkan satu kotak es krim cokelat kesukaanku. Pagi itu kulewatkan di depan televisi, menyaksikan film melankolis, air mataku kubiarkan meleleh tanpa henti, dan sekotak es krim itu pun habis tanpa terasa.

Idan kembali pukul setengah sebelas, masih cemberut. Ia langsung mandi dan tak lama kemudian kembali ke ruang duduk sudah rapi dengan t-shirt dan celana jins.

"Kalau kau mau ke mal, aku sarankan kau mandi dan dandan sedikit,"katanya.

"Aku tidak mau pergi ke mal."

"Kau bilang tadi pagi...."

"Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tidak mau kau gatal-gatal karena alergimu kumat."

"Upit, kalau kita tidak pergi sekarang, kita bisa pulang terlalu sore. Aku ada janji jam empat...."

"Aku bilang aku tidak mau ke mal! Kau bisa pergi memancing sekarang kalau kau mau."

"Jangan seperti anak kecil begini, Pit," geramnya. "Ayo!"

"Tidak! Dan kalau kau marah dan mau minggat seperti dulu lagi, silakan!"



(Bersambung ke Part 3)


Penulis: Novia Stephani
Pemenang I sayembara mengarang cerber femina 2003

Setelah Kau Menikahiku 1 (Pernikahan Simulasi Part 1)

0 komentar
Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah," gerutuku.



Idan tertawa. "Ibumu menanyakan calonmu lagi?"



Aku mengangguk cemberut.



"Apa jawabanmu kali ini?" godanya.



"Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar."



Idan terbahak. "Kau kekanak-kanakan," katanya.



"Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan ibuku malah makin gencar menteror."



Idan tersenyum . "Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh tiga."



"Aku akan sangat gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya," komentarku.



Alis Idan terangkat. "Kenapa?"



"Pernikahan hanya memperumit hidup perempuan."



"Pernikahan juga membuat hidup laki-laki lebih sulit."



"Persis!" potongku.



"Untuk apa menikah kalau yang kita dapat hanyakesulitan?"



"Mungkin karena kesulitan itu hanya efek sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?"



"Sok tahu," cibirku. "Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan menikah."



"Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga puluh lima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga."



"Tapi kau tidak! Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi menikah?"



Idan tersenyum. "Ya, memang."



"Lebih enak hidup seperti ini. Bebas!"



"Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas."



Dan aku menghela nafas panjang. "Ah, ya. Calon."



"Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak juga menikah?"



"Ya, " gumamku enggan.



"Bukan karena kau sama sekali antimenikah."



Aku menggeleng. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke pesta."



"Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu kan?"



"Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus," komentarku pahit.



"Maksudku, aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku pergi."



"Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran."



"Idan!" kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil tertawa.



"Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak penggandeng tetap?" tanyanya kemudian, lebih serius.



"Ya. Justru itu. Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah. Kalau saja," aku terdiam.



"Apa?"



"Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki itu akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahiku. Bagaimana seorang perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya ternyata suami yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, menghina; orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat."



"Pit, laki-laki yang begitu sedikit sekali."



Aku menggeleng. "Semua laki-laki binatang."



"Bagaimana dengan aku? Aku laki-laki."



"Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat."



Idan terbelalak. Didekapnya dada kirinya dan ia terkulai di kursinya.



"Idan!" desisku. "Nanti orang-orang memperhatikan kita!"



"Pit, kau sadar kalau aku belum mati? Aku harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran menjadi malaikat," dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah terjulur.



"Idan, Idan," desahku.



"Kalau kau memang mau menikah, berobatlah." Ia tergelak.



"Dan kau. Kalau kau memang mau menikah, percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan laki-laki."



"Aku tidak bisa, Dan."



"Berarti kau memang tidak bisa menikah. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan kalau kau memaksakan diri, kau akan merana. Dan kalau kau sengsara kau akan makan makin banyak. Dan kalau kau makan banyak-banyak kau akan ...?"



"Idan!" walaupun nada suaraku keras, aku tak bisa menahan senyum mendengar pernyataan konyol itu. Setelah dua puluh tahun menjadi sahabatku, ia benar-benar telah memahamiku.



"Apa kau pernah berpikir tentang ibumu?" katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa menjadi sangat jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian detik. "Ia pasti sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan melindungimu."



"Jangan bicara begitu," cetusku, kembali manyun.



"Satu, ini hidupku, bukan hidup ibuku. Aku sedih kalau ibuku sedih. Tapi kalau suamiku berkhianat, apa ibuku mau menanggung rasa malu dan sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa menggaji lebih banyak pembantu, plus bodyguard kalau perlu."



"Baik, baik, Tuan Putri. Hamba mengaku salah," Idan membungkuk dalam-dalam. "Jadi, dengan asumsi kau tidak sama sekali menihilkan kemungkinan menikah, apa yang ingin kau capai dengan itu?"



Aku tertunduk lemas. "Itulah, Dan," desahku. "Aku tidak tahu. Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya pekerjaan dengan masa depan yang lumayan. Jadi menikah untuk alasan ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku. Aku punya teman-teman diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan alasan bagiku untuk menikah."



"Bagaimana dengan keturunan?"



"Anak? Apa aku harus menikah untuk punya anak? Aku bisa mengadopsi bayi, kan? Di luar sana banyak anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya. Kalau aku mau, aku bisa mengasuh satu, dua atau bahkan tiga dari mereka. Jadi tolong, jelaskan kenapa aku harus menikah, mempertaruhkan diriku sendiri, mengambil risiko dilukai lahir dan atau batin. Tak ada kepastian sama sekali bahwa pernikahan itu akan bertahan sepanjang hidupku. Disamping itu, kalau pernikahan itu hancur di tengah jalan, aku akan jadi pihak yang paling besar menanggung kerugian. Kenapa, Dan? Untuk apa?"



Idan termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. "Cinta mungkin?"



"Kau terlalu banyak menonton film romantis ," olokku. "Kau tahu berapa lama cinta bertahan dalam suatu pernikahan?"



"Berapa lama?"



"Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi, frustrasi dan imajinasi."



"Imajinasi?"



"Kalau kau terjebak di dalam penjara dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu, kau harus membayangkan menikah dengan Richard Gere atau kau bisa jadi gila."



"Astaga," gumam Idan. "Kalau itu terjadi padaku, siapa menurutmu yang harus kubayangkan? Michelle Pfeiffer atau Nicole Kidman?"



"Gorila," jawabku sekenanya dan Idan meledak tertawa.



"Idan," keluhku. "Berhentilah tertawa. Aku bukan pelawak. Aku sedang membicarakan masalah serius, dan aku sebal kau tertawai terus menerus."



Wajahnya serta-merta menjadi serius. "Aku tidak menertawaimu. Kalau kau benar-benar sahabatku, kau tahu beginilah aku menyikapi semua masalah, yang tergenting sekalipun. Termasuk soal menikah. Cobalah. Kau akan merasa jauh lebih baik. Kalau ibumu menanyakan calonmu sekali lagi, tertawalah.Tertawalah keras-keras."



"Idan, kau benar-benar tak tertolong lagi," gumamku. "Aku perlu solusi, dan bukan ide-ide konyol."



Idan membisu. Dan untuk beberapa waktu kami berdua sama-sama merenung.



Akhirnya, Idan bicara dengan hati-hati. "Pit, aku tahu ini akan kedengaran gila. Tapi dengar dulu. Aku rasa saranku ini bisa menyelesaikan kedua masalahmu. Pertama, ketidakpercayaanmu pada ras laki-laki. Kedua, ketidakmengertianmu kenapa kau butuh seorang suami."



Aku mengangguk, dalam hati bersiap-siap untuk mempertahankan mimik seriusku walaupun ide yang akan dilontarkan Idan nantinya ternyata kelewat sinting dan karenanya teramat sangat kocak.



"Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal, dan ini sangat sangat penting, jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa kau percaya kepadaku?"



Kutatap Idan dengan dahi berkerut. Ia telah jadi sahabatku selama puluhan tahun. Banyak yang berubah dalam hidupku, dan setidaknya enam lelaki telah hadir dan menghilang dari hidupku. Hanya Idan yang tak berganti. Ia seakan-akan selalu siap mengulurkan tangan menolongku, sementara sense of humor-nya tak pernah gagal membantuku keluar dari depresi yang paling parah sekalipun. Kalau ada satu laki-laki di dunia yang kuhadapi dengan skeptisisme nyaris nol, hanya Idan orangnya."Ya. Aku percaya kepadamu."



"Kalau begitu, percayalah bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu. Percayalah bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat jahat terselubung di balik ideku ini. Percayalah."



"Idan! " potongku tandas. "Ide apa?"



"Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen," ia bicara dengan hati-hati, kedua matanya terpan cang pada ekspresi wajahku. "Kita akan melakukan pernikahan."



"Apa?"



"Simulasi!" lanjut Idan sesegera mungkin. "Tentu saja lengkap dengan semua formalitasnya, lamaran, akad nikah, kalau perlu honey moon...."



"Bulan madu?"



Idan mengangkat tangannya menyuruhku diam, "Simulasi. Sekali lagi, simulasi. Setelah itu kita akan menjadi suami istri --simulasi? sambil mempelajari kenapa kebanyakan manusia y ang normal dan waras begitu berambisi untuk berumah tangga. Kalau pada akhir eksperimen kau merasa yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding dengan keuntungannya, kita bercerai dan kau bisa hidup lajang, merdeka selama-lamanya. Kalau ternyata kau kecanduan hidup sebagai istri, kita bercerai dan kau bisa cari suami yang paling cocok untukmu. Anggaplah ini Sebagai tes untuk melihat apa kau akan memilih menikah atau tidak. Tanpa komitmen, tanpa penalti. Bagaimana?"



"Idan," desisku. "Ini ide terbodoh y ang pernah kudengar."



"Semua gagasan jenius selalu diolok-olok pada awalnya," sanggah Idan mantap.



"Pikirkan, Pit. Ini satu-satunya cara supaya kita bisa belajar seperti apa pernikahan itu sebenarnya tanpa perlu sungguh-sungguh menikah. Kau tidak mungkin melakukannya dengan laki-laki selain aku, yang telah terbukti memiliki sifat ksatria, dapat dipercaya dan teguh pendirian...."



"Serius, Idan, serius!"



"Dan kau sama sekali tidak melakukanpengor banan apa pun. Kau tidak akan mengalami kerugian apa pun."



"Kecuali jutaan yang harus keluar untuk biaya pernikahan...."



"Simulasi," Idan mengingatkan sambil mengangkat telunjuk.



"OK. Pernikahan simulasi," geramku. "Dan aku akan menyandang status janda setelah kita bercerai."



"Simulasi."



"Idan!"



"Upit!"



"Oh, Tuhan," aku bangkit dengan marah dan beranjak keluar. Idan segera menjejeriku.



"Upit, kau tidak perlu semarah ini," katanya. "Apa aku sejelek itu di matamu hingga kau bahkan tidak mau pura-pura menikah denganku?"



Aku berhenti berjalan dan menatap wajahnya. Dan menggeleng.



"Biarpun wajahmu seperti bunglon sekalipun, aku akan tetap memujimu di depan perempuan malang manapun yang mencintaimu."



Matanya berbinar. "Kau tidak marah lagi, kan?"



Aku menggeleng. "Aku bukan marah karena idemu, Dan. Aku tahu otakmu memang selalu korslet tiap kali memikirkan jalan ke luar dari suatu problem serius. Aku mengerti. Aku hanya kesal karena kau sepertinya tidak peduli dengan masalahku."



"Justru karena aku sangat peduli aku mengusulkan ini, Pit," ekspresinya tampak begitu tulus.



"Terima kasih. Tapi ide itu memuakkan."



"Pikirkan ibumu, Pit. Kalau beliau tahu kau akan segera menikah, denganku, orang yang selama ini dikenalnya sangat baik, sopan, hormat kepada orang tua, ulet, tangguh...," ia berhenti saat melihat raut wajahku, "Ibumu akan sangat bahagia, Pit. Pikirkan juga dirimu."



Ia diam sejenak. "Aku janji akan menggandeng tanganmu di setiap pesta. Di mana pun."



Ucapannya begitu menyentuh hatiku hingga aku nyaris menangis terharu. Kalau saja di antara bekas-bekas kekasihku ada yang mengatakan itu kepadaku, aku pasti sudah lama sekali menikah, pikirku sebelum menertawai diri sendiri. Perempuan yang tidak butuh seorang pelindung, tapi haus digandeng tangannya. Aku pasti sama kurang warasnya dengan Idan.



"Apa aku harus menciummu?" tanyaku nyaris berbisik.



"Sesekali mungkin, kalau orang tua kita diam-diam mengawasi," matanya kembali tertawa. "Di pipi. Aku tidak akan melewati batas. Kalau kita hanya berdua, kau bebas untuk meninjuku, menjambakku...."



"Idan," teguran itu lebih lembut daripada yang kuinginkan dan Idan tersenyum.





***





Suaranya bergetar. "Saya terima nikahnya Puspita Kirana binti Anwar Daud dengan mas kawin tersebut, tunai."



Dan wajahnya kelihatan sedikit pucat. Berapa lama ia tidur semalam? Apa ia terjaga berjam-jam dalam gelap, memikirkan lelucon terbesarnya, seperti aku yang nyalang nyaris sepanjang malam tadi?



Ibuku meneteskan air mata sementara senyum lebar memenuhi wajahnya. Ibu Idan, walau menyaksikan dari kursi rodanya, juga tampak bahagia. Seharusnya aku juga bahagia hari ini. Idan juga. Mungkin dengan orang-orang lain. Tapi seharusnya aku merasa bahagia. Bukan diam-diam mencatat seperti seorang ilmuwan yang teliti: perasaanku, reaksi para tamu, wangi melati dan wajah Pak Penghulu.



Pak Penghulu menyuruhku menyalami suami baruku. (Simulasi, Upit, jangan lupa itu. Suami baru simulasi.) Tangannya dingin. Ekspresi wajahnya aneh, kedua matanya gemerlapan dengan rasa takjub, saat aku mendongak setelah mencium jemarinya. Ia mengecup dahiku dengan bibirnya yang yang nyaris putih. Lalu kami berdua duduk berdampingan mendengarkan petuah Pak Penghulu, Idan menunduk menatap pantalon putihnya dan mataku terpaku pada kain batikku.



Akhirnya kuberanikan diri untuk berbisik, "Kau pucat sekali."



"Aku lapar. Tidak sarapan tadi pagi."



"Terlalu nervous?"



"Telat bangun. Aku nonton bola sampai subuh."



Aku tersenyum.



"Bagaimana aku tadi?" bisiknya.



"Meyakinkan. Berapa lama kau latihan?"



"Hanya waktu aku berpakaian tadi pagi. Catatan yang kau beri tercuci dengan celanaku."



Ah, Idan, Idan. Menikah dengannya tidak akan pernah membosankan. Simulasi. Menikah simulasi dengannya tidak akan membosankan, koreksiku.

(Bersambung ke Part 2)


Penulis: Novia Stephani
Pemenang I sayembara mengarang cerber femina 2003

ada cinta di rumah kita

0 komentar
alhikmah.com - Kruyuk... kruyuk...Duh, kok masih lapar? Padahal baru saja semangkok mie instant udah tandas dimakan. Apa iya sih, kalo belajar itu pasti buat perut kruyukan? Beranjak ke reizouko, alhamdulillah... masih ada persediaan sereal. Lumayan buat ganjalan.

Kuliah di Jepang kadang mengharuskan mahasiswa kerja lemburan, kerjaan tumplek blek kadang datang tiba-tiba. Suara sensei adalah suara raja, sabdanya harus segera dilaksanakan. Kalo gak, wuaaa...!!!

Layaknya seorang hulubalang raja, ia harus siap maju ke medan laga, siap grak!!! Karena itu, gak usah heran peralatan perang serta bahan logistik berupa makanan instant bisa pindah dari rumah, siap tempur jika suatu saat genderang perang telah dikumandangkan.

"Otsukaresamadesu...," satu persatu teman lab permisi pulang, hiks... hiks... hiks... sendiri lagi, ini kerjaan kok susah banget sih !!!

Gondok dan kesal karena kerjaan yang tak henti-henti campur aduk dalam sepi. Ah, enakan kerja sambil dengerin lagu. Ambil walkman, tak lama mengalun lagu-lagu dari negeri sendiri, lumayan sebagai pengobat kerinduan. Seiring alunan lagu, waktu pun semakin berlalu.

Kring...

Dering keitai denwa kembali berbunyi. Entahlah, mungkin saking asyiknya menikmati alunan lagu, deringan telepon kesekian kali baru terdengar nyaring.

"Assalaamu alaykum," terdengar suara di seberang. "Kok dari tadi teleponnya gak diangkat sih?" sambungnya lagi.

"Waalaykum salam. Oh iya, gomen... gomen... tadi teleponnya gak kedengaran. Ntar ya, nanggung banget nih kerjaan," menjelaskan kepada istri tercinta mengapa sudah larut malam kok belum pulang.

Lalu kembali larut dengan kesibukan mengejar impian untuk masa depan.


*****


Klik, pasokon di-shutdown, fuih... alhamdulillah, selesai juga. Segera berkemas, lalu melangkah ke tempat parkir sepeda. Laju mengayuh di bawah senyuman rembulan pucat yang juga ingin pulang di penghujung malam.

"Krek..." perlahan suara pintu dibuka, sambil mengucapkan salam yang lagi-lagi tanpa jawaban.

Berjingkat-jingkat melangkah masuk ke kamar agar tak membuat keributan, aaah... mereka yang kucinta telah terlelap. Tampak wajah lelah sang istri seraya tangannya memeluk ananda tercinta.

"Abi...," terdengar gumaman pelan. Uups, ia mengigau rupanya.

"Ssst... ssst... iya, bentar lagi Abi pulang sayang," umminya menentramkan, seraya tangan mengelus lembut kepala si kecil. Mereka pun kembali terlelap.

Deg!!!

Terkesiap, pias dalam temaram cahaya lampu kamar. Mereka belum sadar kalau yang dinanti telah pulang. Perlahan aku mendekat, yaa Allah... begitu dalam kerinduan yang terpancar dari wajah-wajah tercinta. Kerinduan untuk selalu bersama, bermain, bercanda dalam kesepian karena jauh dari kampung halaman.

Bolak-balik ke kampus di kala mentari masih tersipu malu di balik awan, dan menyibak sepinya malam saat pulang, bukan suatu hal yang istimewa, karena hal itu teramat biasa di Negeri Sakura. Keluar rumah saat buah hati masih nyenyak tertidur dan pulang saat ia sudah terlelap, juga sesuatu yang lumrah. Tak heran, ada banyak kerinduan yang menanti di rumah.

Kerinduan itu kadang meredup saat yang dirindukan selalu tak ada disampingnya, namun tampak membuncah di mata saat ada waktu untuk bermain bersama. Buah hati senang, riang gembira, bercerita dengan bibir mungilnya dan memamerkan apa yang telah bisa mereka lakukan. Tak henti-hentinya bergaya dengan beraneka pola tingkah yang menggemaskan, kadang diambilnya sebuah mainan kemudian dilemparkannya, sambil tertawa-tawa.

Tak lama menangis, sambil tangan mungilnya menggapai-gapai minta diambilkan kembali mainan tersebut. Lalu dibuangnya lagi setelah digenggaman. Selalu begitu berulang-ulang, minta perhatian, itu maksudnya.

Dada terasa sesak dihimpit tangisan tertahan dan timbunan siluet indah kehidupan. Teringat, begitu sedikit waktu untuk keluarga, terutama buat buah hati tercinta. Saat di usia yang mestinya butuh perhatian seorang ayah, namun kewajiban lain perlahan menyitanya.

Duuh Gusti Allah...

Semoga selalu Engkau berikan petunjuk agar diri ini pintar membagi waktu, diingatkan saat pekerjaan terasa sangat memabukkan. Pun dilimpahkan kemudahan dalam belajar, serta bisa menjadi qowwam ideal bagi cinta-cinta yang selalu menanti di rumah.

"Bang, udah pulang? Kok gak bilang-bilang," sapa istri perlahan namun membuyarkan lamunan. "Tadi Dedek badannya agak panas, tapi sekarang udah mendingan," sambungnya lagi.

"Kenapa gak bilang-bilang?" sedikit gusar, lalu beranjak memegang kening si buah hati.

"Ssst, jangan keras-keras ngomongnya," sambil jari telunjuk menempel di bibir.

"Insya Allah gak apa-apa, biasa, lagi pula tadi udah dikasih obat, lagian abang kan sibuk banget," istri menenangkan.

Ah, dalam hati bersyukur karena juga ada sebentuk cinta di rumah yang membuat kehidupan di negeri orang terasa mudah, bisa memahami kesibukan dan sigap pula menggantikan peran suaminya.

"Makasih ya," mencium lembut sang belahan hati, sambil berbisik "Ntar Sabtu ini jalan-jalan yuk!"

Tampak wajahnya berubah cerah. "Benar ya..., janji lho. Oh iya, mau kemana rencananya?" dengan seulas senyum yang mengembang.

"Mau ke Akihabara, ada komponen elektronik yang harus dibeli. Juga katanya udah ada kamera digital versi baru, wuih... kata teman lab sih canggih abis," bla... bla... bla... penuh semangat 45.

Hah???


*****


"Ohayou gozaimasu..." rutinitas biasa, menyapa teman-teman lab.

Cek email dulu aah...Gedubrak!!! Banyak amat email-email yang masuk di mail box, padahal baru semalam dihapus.

Wah... orang Indonesia emang ramah-ramah, dan hobi banget ngobrol, dalam hati berbicara sendiri. Lalu sibuk klik kiri pada mouse dan pilih delete.

Terdengar langkah kaki menghampiri, "Ohayou!" Uups!!! Rupanya sensei yang datang, langsung sigap mengganti tampilan layar komputer.

Belum sempat membalas sapaan, beliau langsung memberi perintah seperti layaknya seorang raja, "Sabtu ini ke lab lagi ya, hasil jikken-nya sudah OK, tapi analisisnya masih kurang untuk kriteria jurnal!!!" katanya sambil meletakkan setumpuk lembaran kertas yang penuh coretan berwarna merah, lalu ia-pun berlalu begitu saja.

"Hai, wakarimashita!" mengangguk hormat, seraya mengulas senyuman terindah.

Langsung teringat janji yang telah terlontarkan untuk cinta-cinta di rumah, wuaaa...!!!

Wallahua'lam bi shawab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*

Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Abu Aufa

(Tulisan ini telah dimuat di buku Diary Kehidupan 2-nya Abu Aufa, diterbitkan oleh PT Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004)


Catatan:
Reizouko: lemari es
Sensei: Professor atau pembimbing research
Otsukaresamadesu: ucapan kepada teman lab kalau permisi pulang
Keitai denwa: telepon genggam (HP)
Gomen: maaf
Pasokon: komputer
Akihabara: dijuluki kota elektronik di Jepang, letaknya di sekitar Tokyo
Ohayou gozaimasu: selamat pagi
Jikken: eksperimen
Hai, wakarimashita: iya, saya mengerti




Oktober 02, 2012

8 kado terindah

0 komentar
Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat,dan tak perlu membeli !
Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.


KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian , dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.


MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang Lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan
kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan
terdengar manis baginya.


D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai Untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.


KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, " Kau bebas berbuat semaumu." Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.


KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil
indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari ! Senin keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.


TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima
kasih dan pujian ( dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.


KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjai bahan pertengkaran. Apalagi sampai Menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado " kesediaan mengalah" Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini


SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman
manis pada orang yang dikasihi?

September 26, 2012

song lyrics

0 komentar
"I Wish" one direction


(Liam)
(Na na na na na) [2x]

[Zayn]
He takes your hand
I die a little
I watch your eyes
And I'm in riddles
Why can't you look at me like that?

(Liam)
(Na na na na na)

[Liam]
When you walk by
I try to say it
But then I freeze
And never do it
My tongue gets tied
The words get trapped

[Harry]
I hear the beat of my heart getting louder
Whenever I'm near you

[All]
But I see you with him slow dancing
Tearing me apart
Cause you don't see
Whenever you kiss him
I'm breaking,
Oh how I wish that was me

(Liam)
(Na na na na na) [2x]

[Harry]
He looks at you
The way that I would
Does all the things, I know that I could
If only time, could just turn back

[Zayn]
Cause I got three little words
That I've always been dying to tell you

[All]
But I see you with him slow dancing
Tearing me apart
Cause you don't see
Whenever you kiss him
I'm breaking,
Oh how I wish that was me

[Harry & Zayn]
With my hands on your waist
While we dance in the moonlight
I wish it was me
That you’ll call later on
Cause you wanna say good night

[Liam]
Cause I see you with him slow dancing
Tearing me apart
Cause you don't see

[All]
But I see you with him slow dancing
Tearing me apart
Cause you don't see
Whenever you kiss him
I'm breaking,

[Harry]
Oh how I wish

[Zayn]
Oh how I wish

[Harry]
Oh how I wish, that was me

[Zayn]
Oh how I wish, that was me 
 
  One Direction – Gotta Be You Lyrics

Girl I see it in your eyes
You’re disappointed.
Cause I’m the foolish one that you anointed with your heart
I tore it apart

And girl what a mess I made upon your innocence
And no woman in the world deserves this
But here I am asking you for one more chance
Can we fall, one more time?
Stop the tape and rewind
Oh and if you walk away I know I’ll fade
Cause there is nobody else

It’s gotta be you
Only you
It’s gotta be you
Only you

Now girl I hear it in your voice and how it trembles
When you speak to me I don’t resemble, who I was
You’ve almost had enough
And your actions speak louder than words
And you’re about to break from all you’ve heard
Don’t be scared, I ain’t going no where
I’ll be here, by your side
No more fears, no more crying
But if you walk away
I know I’ll fade
Cause there is nobody else

It’s gotta be you
Only you
It’s gotta be you
Only you

Oh girl, can we try one more, one more time?
One more, one more, can we try?
One more, one more time
I’ll make it better
One more, one more, can we try?
One more, one more,
Can we try one more time to make it all better?
Cuz its gotta be you
Its gotta be you
Only you
Only you
It’s gotta be you
Only you
It’s gotta be you
Only you!



 One direction – one thing

I’ve tried playing it cool
Girl when I’m looking at you
I can never be brave
Cause you make my heart race
Shot me out of the sky
You’re my kryptonite
You keep me making me weak
Yeah, frozen and can’t breathe
Some things gotta get loud
Cause if not, they just don’t make you see
That I need you here with me now
Cause you’ve got that one thing
So get out, get out, get out of my head
And fall into my arms instead
I don’t, I don’t, don’t know what it is
But I need that one thing
And you’ve got that one thing
Now I’m climbing the walls
But you don’t notice at all
That I’m going out of my mind
All day and all night
Some things gotta get loud
Cause I’m dying just to know your name
And I need you here with me now
Cause you’ve got that one thing
So get out, get out, get out of my head
And fall into my arms instead
I don’t, I don’t, don’t know what it is
But I need that one thing
And you’ve got that one thing
So get out, get out, get out of my mind
And come on, come into my life
I don’t, I don’t, don’t know what it is
But I need that one thing
And you’ve got that one thing
You’ve got that one thing
Get out, get out, get out of my head
And fall into my arms instead
So get out, get out, get out of my head
And fall into my arms instead
I don’t, I don’t, don’t know what it is
But I need that one thing
And you’ve got that one thing
Get out, get out, get out of my mind
And come on, come into my life
I don’t, I don’t, don’t know what it is
But I need that one thing
And you’ve got that one thing


One direction- what makes you beautiful

You’re insecure
Don’t know what for
You’re turning heads when you walk through the door
Don’t need make up
To cover up
Being the way that you are is enough

Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
But that’s what makes you beautiful

So c-come on
You got it wrong
To prove I’m right I put it in a song
I don’t why
You’re being shy
And turn away when I look into your eyes

Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
But that’s what makes you beautiful

[Bridge]
Nana Nana Nana Nana
Nana Nana Nana Nana
Nana Nana Nana Nana

Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful




"More Than This"
[Liam]
I’m broken, do you hear me?
I’m blinded, ‘cause you are everything I see,
I’m dancin’ alone, I’m praying,
That your heart will just turn around,
And as I walk up to your door,
My head turns to face the floor,
‘Cause I can’t look you in the eyes and say,

[Harry]
When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,     
When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this,
Can love you more than this

[Niall]
If I’m louder, would you see me?
Would you lay down
In my arms and rescue me?
‘Cause we are the same
You save me,
When you leave it’s gone again,

[Louis]
And when I see you on the street,
In his arms, I get weak,
My body fails, I’m on my knees,
Prayin’,

[Everyone]
When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,
When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,

[Zayn]
I’ve never had the words to say,
But now I’m askin’ you to stay
For a little while inside my arms,
And as you close your eyes tonight,
I pray that you will see the light,
That’s shining from the stars above,
(And I say)

[Liam]
When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this,

[Zayn]
‘Cause I can love you more than this, yeah

[Everyone]
When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,

When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah

When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this,
Can love you more than this

 

September 02, 2012

wanita

0 komentar

1. Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih, tetapi dia tidak meneteskan airmata, itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.

2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya, lebih baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.

3. Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang paling dia sayang
(karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus di tengah jalan).

4. Jika seorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.

5. Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya, dia akan cair seperti coklat!!

6. Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu cara menerima pujian.

7. Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati, tolak cintanya dengan lembut, jangan kasar karena ada satu semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah membuat keputusan, dia akan melakukan apa saja.

8. Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak cintanya, biarkan dia untuk seketika. Jika kamu masih ingin menganggap dia seorang kawan, cobalah tegur dia perlahan-lahan.

9. Wanita suka meluapkan apa yang mereka rasa. Musik, puisi, lukisan dan tulisan adalah cara termudah mereka meluapkan isi hati mereka.

10.Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.

11.Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.

12.Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif, misalnya menghubunginya melalui telepon, si gadis akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat, tetapi sebenarnya dia akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh menit, semua teman-temannya akan tahu berita tersebut.

13.Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita. Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.

14.Jika kamu menyukai seorang wanita, mulailah dengan persahabatan. Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.

15.Jika seorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar, tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.

16.Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.

17.Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya. Tanya dia sendiri!!
 
 18.Setelah seorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.

19.Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk memikat hati seorang gadis, bacalah buku-buku cinta.

20.Bila setiap kali melihat foto bersama, yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya, kemudian barulah dirinya sendiri.

21.Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!

22.Satu ucapan 'Hai' saja sudah cukup menceriakan harinya.

23.Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.

24.Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata-mata untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.

25.Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.

26.Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya dengan sepenuh hati.

27.Senjata wanita adalah airmata!!

28.Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise buatnya (hadiah, bunga atau sekadar kata-kata romantis). Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati. Dengan ini dia tak akan ragu-ragu terhadapmu.

29.Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya. So, kalau mau memikat wanita pandai-pandailah.

30. Sebenarnya mudah mengambil hati wanita karena apa yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa...

— w

Agustus 29, 2012

Seharusnya Aku Bilang STOP Penulis : Ade Anita

0 komentar
Seharusnya Aku Bilang STOP
Penulis : Ade Anita


Aku memandang kesepuluh jemari tanganku. Sudah berapa lama sebenarnya aku menetap di Jakarta setelah aku menikah? Jika satu buah jari mewakili satu tahun, maka keberadaanku di Jakarta ini belumlah mencapai sepuluh tahun. Mungkin baru… 6…7…Yup. Baru delapan tahun aku tinggal di Jakarta setelah aku menikah. Eh… mungkin ada pertanyaan dari para pemba

ca sekalian, memangnya aku dahulu tinggal dimana? Jawabnya yah di Jakarta juga. Sejak lahir aku tinggal di Jakarta, besar di Jakarta, Sekolah di Jakarta dan bertemu jodohpun di Jakarta. Tapi entah kemana saja aku selama ini, setelah menikah dan tinggal di kota yang sama, mengapa Jakarta kini menjadi sedemikian asing bagiku?

Dahulu aku aktifis kampus. Pergi pagi pulang petang karena begitu banyaknya kegiatan yang harus aku ikuti setiap harinya. Seabreg kegiatan itu sudah aku jalani bahkan sejak aku masih duduk di bangku SMP. Aku memang termasuk orang yang tidak bisa duduk diam saja menunggu sesuatu terjadi dengan sendirinya. Tanganku gatal jika tidak mengerjakan sesuatu dan kakiku pegal-pegal jika tidak melangkah ke banyak tempat. Kepala ini rasanya menjadi mengecil dan mengeras jika tidak ada informasi yang berkelebat keluar masuk ke dalam kepalaku. Aku memang orang yang senang membaca, senang menulis dan juga senang bicara. Wah. Borongan yah. Tapi bisa jadi karena semua kesenangan ini maka beberapa jabatan yang lumayan vital diamanahkan ke tanganku. Alhamdulillah. Tapi karena seabreg kegiatan tersebut, ditambah segala fasilitas kemudahan yang aku peroleh ketika menyandang status “anak”, aku menjadi jarang sekali tergerak untuk mengetahui apa yang terjadi di seputar rumahku, sekeliling tetanggaku dan lebih jauh lagi, apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan kota tempat tinggalku, Jakarta.

Semua terasa baru ketika setelah menikah suamiku meminta aku untuk berdiam di rumah guna mengurus rumah tangga dan menjaga anak-anak. Mungkin bisa dikatakan inilah awal mula kehidupanku yang sesungguhnya. Tahun pertama perkawinan yang ramai dengan tangis dan tawa bayi yang aku lahirkan, membuat aku belum terpikir untuk melongok keluar rumah. Paling banter aku bertemu para tetangga ketika kami sama-sama membeli sayur di pasar atau warung, atau ketika ada acara kerja bakti antar warga. Itupun biasanya dengan sebuah ketergesaan. Khawatir bayiku menangis kepanasan karena terik matahari atau terhirup debu-debu jalanan yang luar biasa serbuannya yang tiada henti itu.

Dua tiga tahun berlalu tanpa terasa. Kini anak-anak sudah mulai beranjak besar. Tak ada lagi waktu siaga 24 Jam yang harus aku berlakukan dalam menjaga dan mengasuh mereka. Pagi anak-anak berangkat sekolah dan suamipun berangkat ke kantor. Membereskan rumah kami yang mungil mungkin hanya memakan waktu satu atau dua jam saja. Akhirnya mulailah waktu luang yang cukup banyak datang menghampiri. Tak ada yang dikerjakan. Tak ada kegiatan. Tak ada kesibukan yang cukup berarti. Inilah saatnya untukku mulai melihat ke dunia di luar rumah. Aku baru menyadari bahwa ternyata, setelah lewat separuh umur hidupku dihabiskan di kota Jakarta, aku lupa untuk sejenak saja melihat keadaan kota ini dalam kesehariannya. Dengan ketetapan hati untuk mulai memperhatikan lingkungan, aku pun mulai melangkahkan kaki keluar dari sarang yang paling aman, keluar rumah. Dimulai dengan menghadiri kegiatan arisan RT.

“Wah, ibu-ibu. Ini ada anggota arisan kita yang baru. Kebetulan karena ini bukaan baru jadi beliau aku masukkan menjadi anggota arisan yang baru.” Aku tersipu-sipu ketika Bu Ramdan yang mengkoordinasikan penyelenggaraan arisan mulai memperkenalkan diriku di hadapan sekitar 50-an orang ibu-ibu peserta arisan. Wah, subhanallah. Banyak juga ternyata tetangga-tetanggaku jika sudah dikumpulkan. Mereka terdiri dari berbagai kalangan. Tanpa terasa, aku otomatis membagi mereka dalam beberapa kelompok. Ada kelompok kelas menengah ke bawah ada yang kelas menengah ke atas. Semua pengelompokan ini otomatis aku lakukan hanya berdasarkan dari melihat cara mereka berpakaian dan berbicara (ah, tolol dan sok tahunya aku; itu baru aku sadari setelah sampai di rumah. Semoga Allah memaafkan sifat sok tahuku ini, aamiin).

Dari acara arisan, secara perlahan tapi pasti aku mulai mencoba melebur dalam masyarakat di sekelilingku. Jika semula seharian aku berada di rumah, kini di siang hari, selesai shalat dzuhur, aku mencoba untuk berjalan ke luar ke arah kerumunan ibu-ibu yang sedang bergerombol menyaksikan anak-anak mereka bermain di tengah jalan. Kebanyakan anak-anak mereka bermain sepeda atau petak lari. Kebetulan anak-anakku juga berada di antara anak-anak mereka. Maka aku mulai menghampiri gerombolan ibu-ibu itu. Dari awal, aku tidak tahu harus berbicara apa. Aku bukan seorang yang supel dan luwes dalam bergaul. Aku termasuk tipe pendiam dan sedikit pemalu tapi tidak bodoh (setidaknya ini yang aku yakini untuk memompa diriku agar tidak minder di hadapan orang lain). Jadi, keberadaanku di antara para ibu-ibu tetanggaku kebanyakan hanyalah sebagai seorang pendengar yang baik. Paling beberapa kali celetukanku keluar jika kami sama-sama memberi komentar terhadap perilaku anak-anak kami yang memang terkadang memancing tawa dan komentar.

Lalu satu dua orang mulai mengajakku untuk mampir ke rumahnya. Mulai dari mencoba resep masakan, sampai rencana untuk melakukan senam aerobik bersama dengan menggunakan video CD senam. Suamiku hanya tersenyum saja jika malam hari aku bercerita padanya apa yang telah aku lakukan dengan para tetanggaku itu. Kian lama, ada sebuah keasyikan tersendiri juga ternyata bergaul dengan para tetangga. Kini, waktu yang diperlukan dalam perjalanan menuju ke pasar atau dokter bisa lebih lama dari dahulu. Jaraknya tidak berubah, tapi karena hampir di sepanjang jalan banyak yang menyapa dan aku menyempatkan diri untuk menghampiri mereka yang menyapaku, jadilah waktu tempuh untuk jarak yang sama jadi lebih lama.

Hingga suatu hari seorang tetanggaku mengajak untuk menonton film dari VCD mereka. Judulnya, Ada Apa Dengan Cinta. Hihihi…. Kami yang sebenarnya sudah berusia hampir kepala empat ini jadi merasa seperti remaja lagi. Bergerombol di depan televisi sambil beberapa kali asyik memberi komentar terhadap beberapa adegan. Seorang ibu beberapa kali membandingkan pengalaman masa mudanya dengan adegan film tersebut. Tanpa dikomando kami beberapa kali pula seperti koor meledek beliau. Suasananya jadi seperti gerombolan remaja yang diam-diam menonton film di rumah orang tuanya ketika orang tua sedang tidak ada di rumah. Suamiku sendiri, yang tetap setia mendengar semua cerita tentang kegiataan sehari-hari, ikut tersenyum-senyum mendengar ceritaku.

“Film itu kan sudah beberapa kali diputar di TV?” Komentarnya.

“Iyah sih. Tapi nggak tahu tuh, kok rasanya lain yah waktu tadi kami menontonnya ramai-ramai di rumah Tina. Kami semua jadi merasa muda kembali. Entah mengapa.”

“OH. Itu mungkin karena kamu sudah terlalu lama berdiam di dalam rumah dan tidak pernah lagi bertemu orang-orang semenjak kamu menikah. Maafkan aku yah, sayang.” Suamiku meraih kepalaku dan mengacak-acak rambutku dengan mesra.

“Ah, aku ikhlas kok insya Allah.” Aku tak urung jadi merasa mukaku berwarna merah jambu menerima perlakuan suamiku. Ah, mengapa aku jadi ingat adegan Rangga yang mengacak-acak rambut Cinta di Film AADC yah? Duh, aku kan bukan remaja lagi. Dan wajahku terasa kian panas menahan malu yang tiba-tiba menyelinap.

Lalu di hari berikutnya, beberapa kali aku larut dalam pembicaraan ibu-ibu. Hingga tanpa terasa kami kini sudah membicarakan tentang isi tabloid infotaiment. Beberapa nama artis berkelebat hadir di tengah pembicaraaan kami. Mulai dari gosip siapa yang menikah, siapa yang bercerai, siapa yang berselingkuh hingga siapa yang melahirkan, semua hadir tanpa terasa. Lalu tanpa terasa juga, kami mulai membicarakan tentang fisik artis tersebut. Tentu saja ditambah dengan penilaian yang bersifat sangat subjektif dari masing-masing ibu-ibu yang terlibat pembicaraan tersebut. Aku mulai merasa suasana tidak enak. Jengah. Tapi tak tahu bagaimana harus menghindari jika sudah berada di tengah-tengah mereka. Kini, dari yang semula hanya menjadi pendengar yang baik sesekali aku mulai ikut memberi komentar dan celetukan kini kanan.

Pembicaraan mulai bergulir kian variatif. Beberapa ibu-ibu membawa beberapa dagangan dan mulai menawarkan transaksi penjualan dengan sistem kredit. Beberapa ibu-ibu lain mulai membawa beberapa film remaja lain yang memang sedang ngetrend di bioskop. Mulai dari Jelangkung, Andai Dia Tahu hingga Eiffel, I’m In Love.

“Wah. Kamu sudah seperti remaja saja deh. Masa nonton film-film seperti itu sih? “ Suamiku mulai keheranan.

“Iyah. Aku juga bingung. Tapi aku juga bingung gimana harus menolaknya. Entahlah. Terkadang duduk, ngumpul dengan mereka dan melakukan hal-hal yang sepele seperti itu kok malah bikin aku jadi lebih rileks yah Mas? Sama ini nih. Aku kadang juga merasa jadi semangat lagi deh, persis kayak waktu remaja dulu.”

“Hmm, mungkin karena kamu selama ini jenuh dan lelah dengan kegiatan yang monoton sehari-harinya. “

“Hmm… mungkin juga yah. “ Aku mengangguk tanda setuju.

“Yah sudah.Asal tidak membawa kamu ke arah melalaikan shalat, rumah dan anak-anak, pada prinsipnya aku membolehkan kamu kok bergaul dengan mereka. Tapi hati-hati yah, sayang. Jangan sampai kamu lengah dan tanpa terasa melakukan hal-hal yang sebenarnya sia-sia.” Sebuah kecupan ringan mendarat di keningku. Dan aku kembali merasakan pipiku bersemu merah karenanya. Ah. Entahlah. Kadang aku merasa bahwa aku terlalu terpengaruh dengan film-film yang aku tonton. Akibatnya, seringkali aku merasa bahwa jika sedang berduaan dengan suamiku, kami bukan lagi sepasang orang tua yang berusia kepala empat dan punya lima orang anak yang semuanya sudah tidak kecil lagi.

Aku sering merasa bahwa kami adalah sepasang remaja yang sedang berkasih-kasihan dan terlibat dalam percintaan yang romantis. Persis seperti adegan dalam film-film remaja yang aku tonton. Bedanya, kami lebih beruntung dari para remaja di film-film tersebut karena kami sudah menikah. Artinya, apapun yang kami lakukan dalam berkasih-kasihan, jika dilakukan dengan penuh keikhlasan dan rasa cinta satu sama lain, insya Allah mendatangkan pahala ibadah tersendiri.

Suatu hari Tika menarik tanganku.

“Ayo ikut ke rumahku. Ibu-ibu yang lain sudah berkumpul semua tuh. Ada film baru, nonton yuk.” Aku gelagapan, bingung harus memberi komentar apa.

“Film apa?”

“Film bule.”

“Film bule? Tumben. Apa? Lord Of The Ring? “ Aku bertanya sambil mengikuti langkah Tika.

“Lord apaan? Bukan. Judulnya Tarzan.” Tika menjawab sambil berjalan bergegas memasuki rumahnya. Sudah ada banyak ibu-ibu di sana. Mungkin sekitar 15 sampai 18 orang. Lumayan banyak. Aku mengambil posisi duduk di tengah mereka. Dekat dengan sepiring pisang dan tahu goreng.

“Sudah siap semua yah? Aku putar deh.” Tika langsung memutar VCD Playernya. Lalu muncullah tayangan perdana dari film pada umumnya. Tentang siapa pemainnya, siapa yang menjadi sponsornya, dan sebagainya. Aku mencomot satu buah pisang goreng. Masih hangat. Hup. Nyam nyam. Segigit pisang goreng masuk ke dalam mulutku. Enak dan manis, alhamdulillah.

“Eh, judulnya apa tadi?” Aku bertanya setelah kunyahan gigitan pisang goreng di mulutku mulai kosong di mulutku. Tak ada yang menjawab. Semua ibu-ibu terlihat asyik menonton adegan film. Aku menoleh kiri kanan. Ternyata hampir semua ibu-ibu pandangan matanya tak berkedip. Aku yang semula asyik dengan pisang goreng mulai melayangkan pandanganku ke layar televisi. Bertepatan dengan adegan sepasang pria dan wanita yang sedang membuka pakaianannya. Aku terpana tapi alhamdulillah segera sadar dan langsung menunduk.

“Masya Allah. Film apa ini?” Pisang goreng di tanganku tidak lagi terasa manis dan hangat. Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku. Sebaliknya pendengaranku mulai dihampiri suara desah seorang wanita. Ah. Apa-apaan ini. Aku meletakkan pisang goreng yang tiba-tiba terasa keras seperti batu dan pahit seperti pil kina. Tubuhku berputar membelakangi layar televisi.

“Aku tidak bisa nonton film ini. Aku ingin pulang saja.” Setengah meringis aku berkata. Duh, aku kan sudah berusia hampir kepala empat tapi mengapa berperilaku cengeng seperti anak kecil seperti ini. Hik..hik… aku mulai putus asa, jengah dan kian panik. Telingaku kian terasa panas dengan suara desah yang terdengar dari televisi.

“Tunggu dulu Bu. Tonton saja, ini penting loh bu. Buat kita-kita juga, tahu. Supaya pandai kita dalam melayani suami kita.” Seorang ibu-ibu mencoba membujukku. Tapi alas dudukku terasa kian panas hingga tak sanggup rasanya aku terus duduk di sana.

“Nggak bisa. Aku malu.” Kini air mataku mulai menitik keluar. Tak peduli lagi pada usia yang sudah hampir kepala empat, tak peduli lagi pada predikat seperti anak kecil, aku mulai terisak ingin pulang. Sementara suara desah wanita di belakang punggungku kian ramai terdengar juga suara-suara lain yang terdengar hingga mendirikan bulu kudukku. Beberapa ibu-ibu mulai membujukku agar tenang.

“Apa-apaan sih ibu ini. Sungguh kampungan sekali. Masa nonton film seperti ini saja menangis? Ibu kan sudah menikah, anak-anak juga sudah beranjak besar. Adegan seperti ini tentulah sudah biasa ibu hadapi. Mengapa mesti menangis. Aku kasih tahu yah Jeng, kita tuh sebagai ibu-ibu harus pinter-pinter cari ilmu untuk membahagiakan suami kita di ranjang. Coba, bagaimana jika suami tidak puas di ranjang lalu melirik wanita lain?” Seorang ibu menasehatiku.

“Iyah bu. Tenang saja. Sebentar lagi juga selesai kok. Kita semua kan bukan remaja lagi yang baru pertama kali mengalaminya. Tidak usah malu.” Seorang ibu yang lain ikut memberi komentar. Aku kian terisak. Tapi kakiku sudah terlalu lemas untuk bangkit berdiri dan pergi dari ruangan yang serba tertutup tersebut. Semua gordein memang ditutup agar anak-anak tidak melihat film yang kami tonton.

“Ah. Rese banget deh mamanya Desi ini. Kalau kamu pergi dari sini, film ini terpaksa harus dimatikan, padahal tanggung juga.”

“Ah, tidak usah dimatikan. Yang mau pergi yah pergi saja. Ya sudah kalau situ mau pergi pergi deh buru-buru, disini malah jadi berisik, ganggu konsentrasi orang lain saja.” Sebuah suara terdengar menghardikku. Aku tak tahan.

“Aku ingin pulang saja. Biarlah aku kampungan atau apa. Aku tidak ingin melihatnya.” Akhirnya keluar juga kekuatan untuk berontak. Aku beranjak berdiri lalu berjalan mendekati pintu. Tak ada yang peduli padaku. Semua asyik menonton film. Jarak dudukku dan pintu jadi terasa sangatlah jauh. Bahkan handle pintu itu jadi terasa berkilo meter letaknya. Aku kepanasan karena rasa jengah di diriku yang mulai membakar seluruh isi dadaku. Mataku mulai berkabut karena air mata yang tidak mau berhenti. Sakit sekali rasanya hati ini diperlakukan seperti orang terusir di ruangan itu. Dalam kesendirian dan perasaan jengah yang tidak mau pergi aku menggapai handle pintu.

“Bu Dewi, tolong kunci lagi pintu yang dibuka sama mamanya Desi.” Sebuah suara tampak memberi komando.

“Iyah, biar saja deh kalau dia memang mau pergi. Dia sendiri yang rugi, tidak dapat pengetahuan tambahan yang baru.” Sebuah suara lagi terdengar.

“Nanti kalau tiba-tiba suaminya beralih ke wanita lain karena merasa kurang puas di ranjang baru tahu rasa dia.”

Sebuah suara tandas terdengar di telingaku. Ah. Mengapa mereka yang selama ini terasa begitu akrab dan ramah tiba-tiba hari ini jadi terasa begitu kejam? Mengapa mereka yang semula bisa menghilangkan kejenuhan dengan keceriaan hari ini tampak begitu egois? Mengapa mereka yang semula aku sangka adalah tetangga-tetanggaku yang baik hari ini berubah menjadi segerombolan ibu-ibu yang tampak panik mempertahankan suaminya dengan berbagai cara dan tak sungkan mengusir aku yang tidak sepaham dengan mereka?

Aku tidak mengerti dan tidak berminat untuk mencari tahu alasannya. Mungkin memang aku kampungan. Bisa jadi aku memang seorang wanita yang sudah hampir beranjak tua dan sama sekali tertinggal dari perkembangan pengetahuan yang disebut dengan pengetahuan modern. Aku tidak peduli. Air mataku kembali menitik dan aku menghasutnya buru-buru.

Malamnya, dalam pelukan suami tercinta aku kembali menangis menceritakan perlakuan teman-teman baruku itu. Ah. Beginikah warna sesungguhnya dari penduduk Jakarta dalam keseharian? Aku tak tahu karena bisa jadi ini hanyalah warna sebagian saja dari penduduk Jakarta yang berjumlah jutaan ini. Setelah tumpah ruah air mataku dalam pelukan suamiku tercinta, dan suara angin yang menggoyangkan dedaunan di luar kamar terdengar samar-samar. Suamiku bertanya pelan-pelan dan hati-hati.

“Tadi, kenapa kamu menangis di hadapan mereka?” Tangan kekar suamiku mengelus rambutku pelan-pelan. Aku tengadahkan kepalaku menghadap wajahnya. Tampak rambut putih telah menghiasi sisi kepalanya kiri dan kanan. Beberapa rambut putih juga sudah tampak hadir meramaikan janggut di dagunya.

“Aku takut mas.” Pelan aku mengadu dan tanpa terasa sebutir air mata kembali hadir di ujung mataku. Tangan suamiku segera bergerak dan menghapus butiran pertama tersebut.

“Takut apa, sayang?” Aku tersenyum dan merebahkan kepalaku di dadanya. Bisa kudengar suara detak jantung suamiku yang bertalu-talu berirama dengan teratur. Sebutir lagi air mataku hadir di ujung mata dan kembali dengan sigap suamiku menghapusnya dengan hati-hati dan penuh rasa kasih.

“Takut apa, sayang?” Suaranya kembali terdengar. Kini dengan intonasi perlahan dan sangat hati-hati. Sarat dengan kehangatan dan kemesraan. Aku merasakan suara yang penuh dengan muatan cinta di dalam suaranya. Subhanallah, betapa aku mencintainya dan bersyukur karena kami adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain.

“Aku takut Allah murka melihat apa yang aku lakukan. Bukankah Allah Maha Menyaksikan segala perbuatan kita?” Air mataku kembali menitik dan aku segera menelungkupkan kepalaku di atas dada suamiku. Sungguh, perasaan takut tadi siang kini ternyata hadir lagi dengan sendirinya malam ini. Aku takut, karena seharusnya aku berani mengatakan STOP pada diriku sendiri mungkin sejak tanda-tanda pertama ajakan para tetanggaku ke arah kelengahan mulai aku rasakan. Tapi nyatanya aku malah larut. Ah. Mungkin aku memang seorang wanita yang lemah. Allahumma, ampunilah atas kelemahan yang aku miliki saat ini. Diam-diam dalam tundukku aku berdoa dalam hati.


----------
Maret 2004

Ade Anita (adeanita_26@yahoo.com.au)

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

about me !!!

Foto saya
I was not pretty, I'm not smart, not rich, not talented, but who obviously I was not bad. and I am not a bad person especially cruel.

follow me on facebook

clock