Februari 13, 2013

cinta setulus hati

0 komentar
  



















 Harus sabar menanti saat ini
saat terindah dalam hidupku
... menyandingmu sepenuh hati
ku menanti

Segala puji saatnya tiba kini
maharku ku ini untuk dirimu
ku serahkan sebagai saksi
cinta setulus hati

aku tak ingin terpisah darimu
walau sesaat aku tak ingin
aku berharap cintaku padamu
tak akan terluruh waktu

cinta ini semoga tak akan mati
cintaku ini cinta sejati
murni karena niat yang suci
cinta setulus hati

Januari 19, 2013

mahasiswi vs mahasantri

0 komentar
Mahasiswi vs Mahasantri

By : Nela Azizah
Photo: Mahasiswi vs Mahasantri

By : Nela Azizah 



Disa gak habis fikir kenapa papan takdir harus mencatat nama Ilham Fathoni sebagai lelaki pertama yang berani datang mengkhitbah dirinya. Seandainya bukan dia, tapi seorang ikhwan kampus yang cerdas…, Seandainya gak terlalu cerdas juga, yang penting dia orang kuliahan yang berakhlak…, Seandainya...seandainya…percuma saja! Kalau sudah terjadi, ternyata buang-buang waktu saja memikirkan seandainya. Uuugh…, benci…benci…benci…! Rasanya jadi geregetan pengen nangis!

 “Mau tahu apa komentar Ayah?” Curhatnya pada Vinny. Sahabatnya itu mengiyakan dengan isyarat mata.

 “Konsekuensi sebagai seorang muslim, kita harus berusaha menjalankan ajaran Rasulullah SAW dengan ikhlas. Kalau beliau mengatakan : Jika datang kepadamu seorang lelaki yang kamu ridhai agama dan amanahnya, maka nikahkanlah ia. Bila tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar (H.R. Tirmidzi dan Ahmad); Maka Ayah pun mesti menaatinya. Jelas aja beliau gak berani nolak dia mentah-mentah, biarpun santri itu sama sekali bukan tipeku!”

 “Semudah itu?”

 “Ya nggak lah! Survei dan istikhoroh dulu. Katanya sih harusnya aku juga istikhoroh, tapi mana mau? Keselnya, sejauh ini aku gak melihat kemungkinan beliau bakal mengubah pendiriannya. Padahal minggu depan keluarga Ilham akan datang mendengar keputusan kami. Please…, tolong dong Vin, kasih aku saran gimana caranya menghadapi masalah serumit ini?”, Disa hampir menangis.

 “Kamu sendiri udah menyampaikan keberatan pada Ayahmu?”

 “Pasti lah Vin, tapi aku gak bisa bicara apa-apa setelah beliau bilang bahwa kekhawatiranku hanyalah sangkaan belaka, sedangkan jawaban Allah pasti benarnya!”

 Vinny manggut-manggut. “Oke…oke…, tenang dulu dong…! Memangnya apa sih kekurangan Ilham yang benar-benar gak bisa kamu terima?”

 Disa menatap lekat mata sang sobat, memohon pengertiannya. “Pendidikannya! Dia cuma lulusan SMP, Vin! Masa harus jadi suami aku sih? Gimana jadinya rumah tanggaku nanti?” sekarang ia benar-benar terisak.

 Vinny belum bisa ngomentar. Oh…, begitu rupanya! Pantes aja si bintang kampus yang sering berjanji hanya mau nikah dengan pria yang lebih pintar dari dirinya itu merasa keberatan! Hhh…, sungguh kasihan! batinnya iba. 

 “Tadi kamu bilang dia santri kan? Berarti belajarnya gak sampai SMP doang lho, Dis!” ia berusaha menghibur.

 “Tetap aja pola fikirnya gak bakalan imbang sama mahasiswi kayak kita, mana bisa aku menghormatinya sebagai suamiku nanti?”

 “Jangan sombong lho, Dis! Siapa tahu kan?”  

 “Justru aku tahu itu, Vin! Dia tuh mondoknya di pesantren salafiyah, pesantren tradisional yang kajian pelajarannya kitab-kitab kuning klasik. Kalau di pesantren modern kayak Gontor sih gak masalah!”

 Sahabatnya mengernyitkan dahi. “Kok tahu dunia pesantren sih?”

 “Tetanggaku yang bilang. Dia satu pesantren sama Ilham. Rasanya aku sudah  bisa menebak seberapa luas wawasan mereka berdua!”, Disa enteng.

 Vinny terdiam… “Ngomong-ngomong, berapa lama sih dia mesantrennya?”, tanyanya kemudian.

 “Siapa?”

 “Ilham”

 “Kata tetanggaku sih sepuluh tahun!”

 “Sepuluh tahun…? Wow…!”, sang sobat salut. “Tetanggamu sendiri?, sepuluh tahun juga?”

 “Boro-boro, paling juga baru dua tahun!”

 “Kalau begitu, beda jauh sama Ilham dong Dis! Masa iya orang yang udah mondok sepuluh tahun disejajarkan sama yang baru dua tahun sih? yang benar aja!”, Vinny cepat menukas.

 “Coba dong renungkan Dis, mondok sepuluh tahun…ingat, sepuluh tahun! Ilham bukan santri lagi, tapi udah mahasantri. Kalau sekolah selama itu, sekarang dia udah jadi Master, lebih tinggi daripada kita yang jadi Sarjana pun belum!”, lanjutnya bersemangat.

 Disa mengangkat kedua alisnya…mencerna kata-kata Vinny. “Mahasantri…? Boleh juga tuh! Aku jadi ingin mengetes seberapa layak dia menjadi pendamping hidupku!” ujarnya tak terduga. Setelah itu ia terlihat menulis pesan via ponselnya.
 
 Vinny geleng-geleng kepala. Disa…Disa! Begitulah kebiasaannya kalau lagi punya masalah. Mulanya curhat, lalu minta pendapat, tapi ujung-ujungnya dia sendiri yang suka menemukan solusinya. Hmm…, apa begitu ciri khas orang yang cerdas? Pikirnya lucu.

 “Oke…, besok gak ada kuliah kan? Tolong temani aku nemuin dia ya Vin, please…! Masa’ mau ketemuan berdua aja kan nanti yang ketiga setan?”   
    
           Vinny mengangguk sambil senyam-senyum tanda mengerti. 

Malam ini Disa gak bisa lekas tidur. Ia terus berfikir mencari soal-soal yang mesti diajukannya pada Ilham besok, yang sekiranya dapat membuat mahasantri itu tak berkutik lalu membatalkan niatnya menikahi dirinya. 

 Satu…dua…tiga jam lebih ia habiskan waktunya untuk begadang. Belasan soal dari berbagai bidang studi akhirnya berhasil ia himpun. Yes…, sekarang gadis itu bisa terlelap dengan tenang!

****
 Saat yang dijanjikan pun tiba. Ilham, Disa dan Vinny kini tengah  duduk berhadap-hadapan di tempat yang ditunjuk Disa kemarin.  

 “Ngomong-ngomong, kenapa mas berani melamarku?” setelah sedikit basa-basi mahasiswi itu mengawali perbincangan pentingnya dengan nada cukup kecut. Sang sobat menegur sambil menyikutnya. Disa membalas dengan gerakan telunjuk, mengingatkan posisi Vinny sesuai kesepakatan sebelumnya : menjadi saksi bisu! 

“Karena dik Disa wanita, dan belum ada yang memiliki”, jawab Ilham sangat tepat, namun sungguh mengecewakan si penguji. Betapa tidak, ia berharap lelaki itu meminta maaf karena berani mengajukan pinangan pada wanita yang berpendidikan lebih tinggi darinya. Huuh, dasar gak tahu malu! Dadanya bergemuruh. 

“Terus, aku kan masih kuliah. Mas gimana? Apa udah lulus?”, ia sengaja menyinggung masalah tersebut.

“Saya tidak kuliah, tapi nyantri!” Ilham percaya diri. Benar-benar mengesankan sekaligus mengesalkan sang mahasiswi.

“Kenapa nyantri? Kuliah kan lebih menjanjikan?” Ia kepalang angkuh, peduli amat pertanyaan-pertanyaannya sekarang malah keluar jauh dari deretan soal yang semalam ia persiapkan.

“Kewajiban kita kan menuntut ilmunya. Kuliah atau nyantri hanyalah pilihan. Adapun tentang masa depan, kewajiban kita hanya berusaha untuk meraih  semampunya. Selebihnya urusan Tuhan.”

Disa hampir kelabakan, namun… “Ya…tentu saja itu benar, tapi pesantren salafiyah kan gak formal. Bertahun-tahun belajar disana gak akan dapat ijazah formal buat ngelanjutin ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ataupun mencari kerja. Sayang sekali bukan?”

“Itulah mungkin masalah yang belum bisa kami tangani. Meskipun bagi kami menuntut ilmu itu sebenarnya harus dilakukan lillahi ta`ala, tapi karena peraturan tertentu di negara kita seperti yang barusan kamu sampaikan, tampaknya sangat bijak bila pendidikan pesantren salafiyah pun diformalkan seperti sekolahan. Sejauh ini pemerintah baru menyediakan program kesetaraan pendidikan melalui program paket B atau C yang bisa diselenggarakan di pesantren. Itu juga sudah Alhamdulillah, tapi artinya masih belum menempatkan pendidikan pesantren murni di posisi yang setingkat dengan sekolahan. Oh ya, sebagai mahasiswi, barangkali mbak bisa memberikan saran?” sang mahasantri berujar apa adanya. 

Disa tercengang, ia harus melawan perkataannya sendiri! “Apa…? Menyetarakan pendidikan pesantren murni dengan sekolahan agar sama-sama formal? Ya gak mungkin lah, bidang kajiannya juga beda jauh!” sergahnya tanpa fikir panjang.

“Hm.., menurutmu begitu ya? Padahal tampaknya itu bukan masalah. Bukankah sekolah juga mengenal spesialisasi pendidikan? Apa memang tak bisa kalau misalnya pendidikan pesantren salafiyah disamakan dengan jurusan PAI di sekolahan mungkin?” rupanya pemuda itu bukan santri sembarangan.

Lawan bicaranya melongo. “Kalau begitu, fikir aja sendiri! Kenapa malah nanya aku?” Disa jadi sewot. Tengsin berat, guys! Masa iya jawaban mahasiswi jempolan gak mutu sih, diprotes santri lagi, atau…mahasantri? Huh, apapun sebutannya, muka Disa jadi makin merah! Hihi, kalau hati panas, kerja otak memang suka terganggu!

“Maaf, saya hanya bermaksud untuk bertukar fikiran!” Ilham merasa bersalah juga. Disa pura-pura gak mendengarnya. Vinny menahan tawa sekuatnya.  

Jeda. Tanpa dikomando, ketiga orang itu kini kompak menikmati menu yang telah dipesannya masing-masing.

“Ehem!” Disa berdehem. “Tadi kamu bilang mau bertukar fikiran kan? Bisa kita lanjutkan?” ujarnya tak berapa lama. Ternyata saat makan pun, otaknya terus bekerja. Sepertinya ia pun tak rela kalah debat. 

“Boleh!” sang pemuda tenang.

“Masih tentang perbandingan antara pesantren dan sekolahan, khususnya perguruan tinggi. Jujur saja, menurutku lulusan perguruan tinggi lebih layak diunggulkan daripada keluaran pesantren. Mereka lebih banyak berkiprah di berbagai lapangan kehidupan bermasyaraakat daripada para santri. Buktinya, mereka bisa jadi ekonom, politikus, hakim, sejarawan, sastrawan, filosof, dokter, insinyur dan sebagainya. Sedangkan alumni pesantren paling hanya bisa menerjuni satu profesi, jadi ustadz atau kyai! Peranan yang sangat minim bukan?” Si gadis terus berusaha memojokkannya, dan sekarang ia yakin akan berhasil.

“Tepatnya ustadz atau kyai yang serba bisa! Sungguh, hampir semua materi yang berkaitan dengan setiap profesi yang mbak sebutkan pun dipelajari di pesantren. Di bidang ekonomi ada kajian mu`amalah, bidang politik dan kekuasaan ada siyasah waddaulah, bidang hukum pidana ada jinayat, bidang sejarah ada tarikh, bidang sastra ada balaghah, bidang filsafat ada manthiq. Lebih lengkapnya, cobalah sesekali mbak berkunjung ke pesantren!” Ilham mengklarifikasi dengan tutur katanya yang elegan. 

Disa ternganga. “Kalau bidang kedokteran, kedirgantaraan, kelautan, geologi, konstruksi, kimia, fisika…apa iya kalian juga mengkajinya?” kejarnya sinis.

“Kalau materi-materi itu kami tak mempelajarinya!” mahasantri itu merendah, membuat rivalnya segera memamerkan senyum kemenangan. Disa kini  puas.

 “Sama saja, ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolahan pun terbatas lho! Mungkin banyak juga materi pelajaran pesantren yang justru tidak kami kenal sama sekali…” kali ini Vinny terpaksa bersuara. Ia merasa emosi sang sobat sudah  saatnya mulai dikendalikan. 

Disa memandangnya terkejut. Vinny membalasnya dengan senyuman was-was. 

“Mbak Disa ini kabarnya sangat pintar ya? Eh, sekarang terbukti.” Ilham  berusaha mencairkan suasana.

 “Benar tuh, Mas! Disa ini juara umum sejak zaman SD dulu sampai sekarang lho!” Vinny menguatkan. 

 “Ah, biasa aja kok!” yang dipuji ketus. 

“Hmm, kalau sahabatnya sendiri yang bilang, saya justru tambah percaya”, Si jejaka menimpali seraya tersenyum manis ke arahnya. 

Disa buru-buru memalingkan muka. Entahlah, dialog-dialog tadi ditambah  senyuman tulus dan tatapan sekilas sang mahasantri barusan tiba-tiba membuat jantungnya berdesir-desir halus. Masih terngiang perkataan tetangga sebelumnya, “Mas Ilham itu kepercayaannya Pak Kyai. Orangnya kan cerdas dan alim, jadi banyak santriwati yang naksir padanya. Pak Kyai sendiri sudah beberapa kali menawarkan calon istri padanya. Tapi gak ada yang diterima sama Mas Ilham. Eh, ternyata cinta Mas Ilham cuma buat Mbak Disa seorang…”. Tanpa sadar mahasiswi itu mesem-mesem sendiri.

“Disaaa, senyum ke siapa sih…? Mas Ilhamnya kan disini…!” Vinny tak tahan untuk tidak  menggodanya, dan itu benar-benar membuat Disa tersipu malu. 

Disa jadi grogi…

*****




*** Cerpen ini karya salah satu sahabat di sini lhoh yang turut berpartisipasi berkirim cerita, Namanya Nela Azizah
Mau berkenalan langsung dengan penulisnya? Sapa FBnya https://www.facebook.com/nela.azizah



*** Mari lakukan tindakan kongkrit untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina.

#PrayForPalestina salurkan infak terbaik anda ke #FLPPeduliUmat BSM 7033101858 an. FORUM LINGKAR PENA. Jangan lupa konfirmasi sms 081572014615 (hikaru) untuk pencatatan donatur

NB: Buat yang berminat membuat foto pribadi menjadi kartun seperti ini silakan menghubungi
http://www.facebook.com/kawanimut2 melalui inbox untuk detail2 prosedur pemesanannya. Dan setiap pemesan akan dibuatkan kartun dirinya dalam beberapa format, model dan kreasi sesuai keinginan seperti pose wedding, pose cute dll.
Dan tentunya tidak gratis lho yaa? Kalau gratis desainernya pasti kewalahan karena permintaan pasti banyak sekali)


NB: Bagi yang ingin share atau tag dipersilakan saja. Yang melalui komputer tinggal klik tandai/tag gambar lalu klik siapa saja yang akan ditag. Dan bagi yang melalui hape dan kesulitan mengetag diri-sendiri bisa minta bantuan temannya buat ngetag dan bisa mengetag teman2 yang lain juga. Caranya ajak teman anda untuk LIKE page ini dulu kemudian minta kepada teman anda untuk mengetag-kan dan anda juga bisa mengetag dia juga. Dan mohoooonn sebagai imbal balik tolong jangan hanya mengetag diri sendiri namun juga bantu teman-temannya untuk mengetagkan. Jika gagal berarti tagnya sudah penuh dan coba pindah ke gambar yang lain yang masih kosong. Dan buat yang pengen karyanya diterbitin di page ini juga boleh, silakan saja kirimkan ke inbox redaksi page ini untuk kemudian diseleksi. Atau yang punya file novel/cerpen karya penulis favoritnya juga bisa dikirim buat dishare
Selamat mencoba ^_^





LIKE http://www.facebook.com/IloveOriginalKawanimut

FOLLOW https://twitter.com/#!/Kawanimut

Download gambar-gambar cantik Kawanimut di blog resmi http://kawanimut.multiply.com/

Atau dapatkan gambar ukuran aslinya di website http://www.desainkawanimut.com/

 
Disa gak habis fikir kenapa papan takdir harus mencatat nama Ilham Fathoni sebagai lelaki pertama yang berani datang mengkhitbah dirinya. Seandainya bukan dia, tapi seorang ikhwan kampus yang cerdas…, Seandainya gak terlalu cerdas juga, yang penting dia orang kuliahan yang berakhlak…, Seandainya...seandainya…percuma saja! Kalau sudah terjadi, ternyata buang-buang waktu saja memikirkan seandainya. Uuugh…, benci…benci…benci…! Rasanya jadi geregetan pengen nangis!

“Mau tahu apa komentar Ayah?” Curhatnya pada Vinny. Sahabatnya itu mengiyakan dengan isyarat mata.

“Konsekuensi sebagai seorang muslim, kita harus berusaha menjalankan ajaran Rasulullah SAW dengan ikhlas. Kalau beliau mengatakan : Jika datang kepadamu seorang lelaki yang kamu ridhai agama dan amanahnya, maka nikahkanlah ia. Bila tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar (H.R. Tirmidzi dan Ahmad); Maka Ayah pun mesti menaatinya. Jelas aja beliau gak berani nolak dia mentah-mentah, biarpun santri itu sama sekali bukan tipeku!”

“Semudah itu?”

“Ya nggak lah! Survei dan istikhoroh dulu. Katanya sih harusnya aku juga istikhoroh, tapi mana mau? Keselnya, sejauh ini aku gak melihat kemungkinan beliau bakal mengubah pendiriannya. Padahal minggu depan keluarga Ilham akan datang mendengar keputusan kami. Please…, tolong dong Vin, kasih aku saran gimana caranya menghadapi masalah serumit ini?”, Disa hampir menangis.

“Kamu sendiri udah menyampaikan keberatan pada Ayahmu?”

“Pasti lah Vin, tapi aku gak bisa bicara apa-apa setelah beliau bilang bahwa kekhawatiranku hanyalah sangkaan belaka, sedangkan jawaban Allah pasti benarnya!”

Vinny manggut-manggut. “Oke…oke…, tenang dulu dong…! Memangnya apa sih kekurangan Ilham yang benar-benar gak bisa kamu terima?”

Disa menatap lekat mata sang sobat, memohon pengertiannya. “Pendidikannya! Dia cuma lulusan SMP, Vin! Masa harus jadi suami aku sih? Gimana jadinya rumah tanggaku nanti?” sekarang ia benar-benar terisak.

Vinny belum bisa ngomentar. Oh…, begitu rupanya! Pantes aja si bintang kampus yang sering berjanji hanya mau nikah dengan pria yang lebih pintar dari dirinya itu merasa keberatan! Hhh…, sungguh kasihan! batinnya iba.

“Tadi kamu bilang dia santri kan? Berarti belajarnya gak sampai SMP doang lho, Dis!” ia berusaha menghibur.

“Tetap aja pola fikirnya gak bakalan imbang sama mahasiswi kayak kita, mana bisa aku menghormatinya sebagai suamiku nanti?”

“Jangan sombong lho, Dis! Siapa tahu kan?”

“Justru aku tahu itu, Vin! Dia tuh mondoknya di pesantren salafiyah, pesantren tradisional yang kajian pelajarannya kitab-kitab kuning klasik. Kalau di pesantren modern kayak Gontor sih gak masalah!”

Sahabatnya mengernyitkan dahi. “Kok tahu dunia pesantren sih?”

“Tetanggaku yang bilang. Dia satu pesantren sama Ilham. Rasanya aku sudah bisa menebak seberapa luas wawasan mereka berdua!”, Disa enteng.

Vinny terdiam… “Ngomong-ngomong, berapa lama sih dia mesantrennya?”, tanyanya kemudian.

“Siapa?”

“Ilham”

“Kata tetanggaku sih sepuluh tahun!”

“Sepuluh tahun…? Wow…!”, sang sobat salut. “Tetanggamu sendiri?, sepuluh tahun juga?”

“Boro-boro, paling juga baru dua tahun!”

“Kalau begitu, beda jauh sama Ilham dong Dis! Masa iya orang yang udah mondok sepuluh tahun disejajarkan sama yang baru dua tahun sih? yang benar aja!”, Vinny cepat menukas.

“Coba dong renungkan Dis, mondok sepuluh tahun…ingat, sepuluh tahun! Ilham bukan santri lagi, tapi udah mahasantri. Kalau sekolah selama itu, sekarang dia udah jadi Master, lebih tinggi daripada kita yang jadi Sarjana pun belum!”, lanjutnya bersemangat.

Disa mengangkat kedua alisnya…mencerna kata-kata Vinny. “Mahasantri…? Boleh juga tuh! Aku jadi ingin mengetes seberapa layak dia menjadi pendamping hidupku!” ujarnya tak terduga. Setelah itu ia terlihat menulis pesan via ponselnya.

Vinny geleng-geleng kepala. Disa…Disa! Begitulah kebiasaannya kalau lagi punya masalah. Mulanya curhat, lalu minta pendapat, tapi ujung-ujungnya dia sendiri yang suka menemukan solusinya. Hmm…, apa begitu ciri khas orang yang cerdas? Pikirnya lucu.

“Oke…, besok gak ada kuliah kan? Tolong temani aku nemuin dia ya Vin, please…! Masa’ mau ketemuan berdua aja kan nanti yang ketiga setan?”

Vinny mengangguk sambil senyam-senyum tanda mengerti.

Malam ini Disa gak bisa lekas tidur. Ia terus berfikir mencari soal-soal yang mesti diajukannya pada Ilham besok, yang sekiranya dapat membuat mahasantri itu tak berkutik lalu membatalkan niatnya menikahi dirinya.

Satu…dua…tiga jam lebih ia habiskan waktunya untuk begadang. Belasan soal dari berbagai bidang studi akhirnya berhasil ia himpun. Yes…, sekarang gadis itu bisa terlelap dengan tenang!

****
Saat yang dijanjikan pun tiba. Ilham, Disa dan Vinny kini tengah duduk berhadap-hadapan di tempat yang ditunjuk Disa kemarin.

“Ngomong-ngomong, kenapa mas berani melamarku?” setelah sedikit basa-basi mahasiswi itu mengawali perbincangan pentingnya dengan nada cukup kecut. Sang sobat menegur sambil menyikutnya. Disa membalas dengan gerakan telunjuk, mengingatkan posisi Vinny sesuai kesepakatan sebelumnya : menjadi saksi bisu!

“Karena dik Disa wanita, dan belum ada yang memiliki”, jawab Ilham sangat tepat, namun sungguh mengecewakan si penguji. Betapa tidak, ia berharap lelaki itu meminta maaf karena berani mengajukan pinangan pada wanita yang berpendidikan lebih tinggi darinya. Huuh, dasar gak tahu malu! Dadanya bergemuruh.

“Terus, aku kan masih kuliah. Mas gimana? Apa udah lulus?”, ia sengaja menyinggung masalah tersebut.

“Saya tidak kuliah, tapi nyantri!” Ilham percaya diri. Benar-benar mengesankan sekaligus mengesalkan sang mahasiswi.

“Kenapa nyantri? Kuliah kan lebih menjanjikan?” Ia kepalang angkuh, peduli amat pertanyaan-pertanyaannya sekarang malah keluar jauh dari deretan soal yang semalam ia persiapkan.

“Kewajiban kita kan menuntut ilmunya. Kuliah atau nyantri hanyalah pilihan. Adapun tentang masa depan, kewajiban kita hanya berusaha untuk meraih semampunya. Selebihnya urusan Tuhan.”

Disa hampir kelabakan, namun… “Ya…tentu saja itu benar, tapi pesantren salafiyah kan gak formal. Bertahun-tahun belajar disana gak akan dapat ijazah formal buat ngelanjutin ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ataupun mencari kerja. Sayang sekali bukan?”

“Itulah mungkin masalah yang belum bisa kami tangani. Meskipun bagi kami menuntut ilmu itu sebenarnya harus dilakukan lillahi ta`ala, tapi karena peraturan tertentu di negara kita seperti yang barusan kamu sampaikan, tampaknya sangat bijak bila pendidikan pesantren salafiyah pun diformalkan seperti sekolahan. Sejauh ini pemerintah baru menyediakan program kesetaraan pendidikan melalui program paket B atau C yang bisa diselenggarakan di pesantren. Itu juga sudah Alhamdulillah, tapi artinya masih belum menempatkan pendidikan pesantren murni di posisi yang setingkat dengan sekolahan. Oh ya, sebagai mahasiswi, barangkali mbak bisa memberikan saran?” sang mahasantri berujar apa adanya.

Disa tercengang, ia harus melawan perkataannya sendiri! “Apa…? Menyetarakan pendidikan pesantren murni dengan sekolahan agar sama-sama formal? Ya gak mungkin lah, bidang kajiannya juga beda jauh!” sergahnya tanpa fikir panjang.

“Hm.., menurutmu begitu ya? Padahal tampaknya itu bukan masalah. Bukankah sekolah juga mengenal spesialisasi pendidikan? Apa memang tak bisa kalau misalnya pendidikan pesantren salafiyah disamakan dengan jurusan PAI di sekolahan mungkin?” rupanya pemuda itu bukan santri sembarangan.

Lawan bicaranya melongo. “Kalau begitu, fikir aja sendiri! Kenapa malah nanya aku?” Disa jadi sewot. Tengsin berat, guys! Masa iya jawaban mahasiswi jempolan gak mutu sih, diprotes santri lagi, atau…mahasantri? Huh, apapun sebutannya, muka Disa jadi makin merah! Hihi, kalau hati panas, kerja otak memang suka terganggu!

“Maaf, saya hanya bermaksud untuk bertukar fikiran!” Ilham merasa bersalah juga. Disa pura-pura gak mendengarnya. Vinny menahan tawa sekuatnya.

Jeda. Tanpa dikomando, ketiga orang itu kini kompak menikmati menu yang telah dipesannya masing-masing.

“Ehem!” Disa berdehem. “Tadi kamu bilang mau bertukar fikiran kan? Bisa kita lanjutkan?” ujarnya tak berapa lama. Ternyata saat makan pun, otaknya terus bekerja. Sepertinya ia pun tak rela kalah debat.

“Boleh!” sang pemuda tenang.

“Masih tentang perbandingan antara pesantren dan sekolahan, khususnya perguruan tinggi. Jujur saja, menurutku lulusan perguruan tinggi lebih layak diunggulkan daripada keluaran pesantren. Mereka lebih banyak berkiprah di berbagai lapangan kehidupan bermasyaraakat daripada para santri. Buktinya, mereka bisa jadi ekonom, politikus, hakim, sejarawan, sastrawan, filosof, dokter, insinyur dan sebagainya. Sedangkan alumni pesantren paling hanya bisa menerjuni satu profesi, jadi ustadz atau kyai! Peranan yang sangat minim bukan?” Si gadis terus berusaha memojokkannya, dan sekarang ia yakin akan berhasil.

“Tepatnya ustadz atau kyai yang serba bisa! Sungguh, hampir semua materi yang berkaitan dengan setiap profesi yang mbak sebutkan pun dipelajari di pesantren. Di bidang ekonomi ada kajian mu`amalah, bidang politik dan kekuasaan ada siyasah waddaulah, bidang hukum pidana ada jinayat, bidang sejarah ada tarikh, bidang sastra ada balaghah, bidang filsafat ada manthiq. Lebih lengkapnya, cobalah sesekali mbak berkunjung ke pesantren!” Ilham mengklarifikasi dengan tutur katanya yang elegan.

Disa ternganga. “Kalau bidang kedokteran, kedirgantaraan, kelautan, geologi, konstruksi, kimia, fisika…apa iya kalian juga mengkajinya?” kejarnya sinis.

“Kalau materi-materi itu kami tak mempelajarinya!” mahasantri itu merendah, membuat rivalnya segera memamerkan senyum kemenangan. Disa kini puas.

“Sama saja, ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolahan pun terbatas lho! Mungkin banyak juga materi pelajaran pesantren yang justru tidak kami kenal sama sekali…” kali ini Vinny terpaksa bersuara. Ia merasa emosi sang sobat sudah saatnya mulai dikendalikan.

Disa memandangnya terkejut. Vinny membalasnya dengan senyuman was-was.

“Mbak Disa ini kabarnya sangat pintar ya? Eh, sekarang terbukti.” Ilham berusaha mencairkan suasana.

“Benar tuh, Mas! Disa ini juara umum sejak zaman SD dulu sampai sekarang lho!” Vinny menguatkan.

“Ah, biasa aja kok!” yang dipuji ketus.

“Hmm, kalau sahabatnya sendiri yang bilang, saya justru tambah percaya”, Si jejaka menimpali seraya tersenyum manis ke arahnya.

Disa buru-buru memalingkan muka. Entahlah, dialog-dialog tadi ditambah senyuman tulus dan tatapan sekilas sang mahasantri barusan tiba-tiba membuat jantungnya berdesir-desir halus. Masih terngiang perkataan tetangga sebelumnya, “Mas Ilham itu kepercayaannya Pak Kyai. Orangnya kan cerdas dan alim, jadi banyak santriwati yang naksir padanya. Pak Kyai sendiri sudah beberapa kali menawarkan calon istri padanya. Tapi gak ada yang diterima sama Mas Ilham. Eh, ternyata cinta Mas Ilham cuma buat Mbak Disa seorang…”. Tanpa sadar mahasiswi itu mesem-mesem sendiri.

“Disaaa, senyum ke siapa sih…? Mas Ilhamnya kan disini…!” Vinny tak tahan untuk tidak menggodanya, dan itu benar-benar membuat Disa tersipu malu.

Disa jadi grogi…

*****

Oktober 27, 2012

ibuku tangguh

0 komentar
 eramuslim - Pernah suatu sore, ibu pulang dengan tapak kaki berdarah. "Tertusuk kerikil," terangnya. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi, wanita yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan sedikit ringisan,
"Tidak apa, cuma luka kecil kok," tenang ibu.

Padahal, baru dua hari lalu beberapa orang warga yang tak satu pun saya mengenalnya membopong ibu dalam keadaan pingsan. Ternyata ibu kelelahan hingga tak kuat lagi berjalan. Bermil-mil ia mengetuk pintu ke pintu rumah orang yang tak dikenalnya untuk menawarkan jasa mengajar baca tulis Al-Qur'an bagi penghuni rumah. Tak jarang suara hampa yang ia dapatkan dari dalam rumah, sesekali penolakan, dan tak terbilang kata, "Maaf, kami belum butuh guru mengaji." Tapi ibu tetap tersenyum.

Sejak perceraiannya dengan ayah, ibu yang menanggung semua nafkah lima anaknya. Pagi ia berjualan nasi dan ketupat bermodalkan sedikit keterampilan memasak yang ia peroleh selagi muda dulu. Menjelang siang ia memulai menyusuri jalan yang hingga kini takkan pernah bisa kuukur, menawarkan jasa dan keahliannya mengajar baca tulis Al-Qur'an. Selepas isya' kami ke lima anaknya menunggu setia kepulangan ibu di pinggir jalan.

Sempat saya bertanya dalam hati, lelahkah ia?

Biasanya kami berebut untuk menjadi tukang pijat ibu, saya di kepala, abang di kaki, sementara kedua tangan ibu dikeroyok adik-adik. Kecuali si cantik bungsu, usianya kurang dari empat tahun kala itu. Bukannya ibu yang tertidur pulas, justru kami yang terlelap satu persatu terbuai indahnya nasihat lewat tutur cerita ibu.

Tengah malam saya terbangun, melihat ibu masih duduk bersimpuh di sajadahnya. Ia menangis sambil menyebut nama kami satu persatu agar Allah membimbing dan menjaga kami hingga menjadi orang yang senantiasa membuat ibu tersenyum bangga pernah melahirkannya. Saya ternganga sekejap untuk kemudian terlelap kembali hingga menjelang subuh ia membangunkan kami.

Selepas subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah itu meneruskan pekerjaanya menyiapkan dagangan. Sementara kami membantu ala kadarnya. Tak pernah saya melihat ia mengeluh meski teramat sudah peluhnya.

Satu tanyaku kala itu, kapan ia terlelap?

Pagi hari di sela kesibukannya melayani pembeli, ia juga harus menyiapkan pakaian anak-anak untuk ke sekolah. Sabar ia meladeni teriakan silih berganti dari kami yang minta pelayanannya. Wanita yang namanya diagungkan Rasulullah itu, tak pernah marah atau kesal. Sebaliknya dengan segenap cinta yang dimilikinya ia berujar, "Abang sudah besar, bantu ibu ya."
Ingin sekali kutanyakan, pernahkah ia berkesah?

***
Kini, setelah berpuluh tahun ia lakukan semua itu, setelah jutaan mil jalan yang ia susuri, bertampuk-tampuk doa dan selaut tangisnya di hadapan Allah, saya tak pernah, dan takkan pernah bertanya apakah ia begitu lelah. Karena saya teramat tahu, Ibuku tangguh!.

Bayu Gautama

pengakuan !!!!

0 komentar
aku mencintai mu, bukan karena aku sudah mengenal mu dengan baik..
aku mencintaimu, bukan karena ketampanan wajah mu..
aku mencintaimu, bkn karna kekayaan yang kamu miliki..
aku mencintaimu, karena kebagusan kata-kata mu..
aku mencintaimu, karena segala keindahan ideologi mu..
aku mencintaimu, karena kamu mengerti caranya mencintai Allah..

meski sesungguhnya tidak pernah sekali pun kita saling berbincang dan bertatap muka secara khusus.
tapi entah kenapa setiap kali membaca semua kata-kata yang kamu tuliskan aku merasa seolah-olah itulah diri mu sebenarnya.
tiada sedikit pun keraguan dalam hati ku untuk memulai menyukai mu,
tanpa sadar ku aku membawa mu dalam setiap sujud ku Pada nya,
aku berdoa dan berharap semoga ALLah mempertemukan kita kelak dengan cara nya yang indah,
amiennnn..........

mengingat mu saja sudah membuat jantung ku
berdetak luar biasa kencang, tapi rasa ini juga sangat aneh wajah nya sering terbayang di mata ku, dan setiap kali hal itu terjadi aku pasti pasti tersenyum bahagia mengingat nya,,
yahhhh,,
aku seperti kerasukan, aku mulai gila, sesaat akal sehat ku hilang karena nya,,,

ada rasa takut memiliki rasa ini terhadap seseorang, membuat aku bertanya, benarkah rasa seperti ini berasal dari Allah,,?
dosa kah semua perasaan ini ??
marah atau cemburu kah Rabb ku pada ku karena hal ini ?

Oktober 16, 2012

air mata mutiara

0 komentar
Pada suatu hari seekoranak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."
Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa.
Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya.
Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya.
Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar.
Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga.
Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain
yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

**********
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".
Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami.
Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'.
Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu.
Cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu..
"Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara."

Semoga........

Oktober 11, 2012

sampaikan pesan ummi pada abi mu

1 komentar


Photo: -=][ SAMPAIKAN PESAN UMMI PADA ABIMU ][=-

♥ Bismillahirrahmaanirrahiim ♥

(SUNGGUH SAYA MENANGIS , TUBUHKU MERINDING KALA BACA INI !!! Kisah serangan udara tentara Israel kepada penduduk Palestine)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim ...

Ahmed putraku...

Ummi tak tahu kenapa pagi ini kau bersikeras
pergi ke pasar untuk belanja dapur kita
Dimana biasanya Ummi yang melakukannya
katamu,"Biar Ummi di rumah,
Ummi mengaji saja di kamar
Biar Ahmed yang pergi ke pasar
Sekali ini saja."
Kau sangat bersikeras ...Ahmed putraku
Ummi tak ada prasangka padamu
Lelaki kecilku yang dibanggakan Abimu juga aku

Lalu kau pun pergi membawa keping logam tersisa
Untuk ditukar dengan apa saja sekedar hidup hari ini
Ummi lalu kembali larut dalam ayat Quran tercinta kita...
Kemudian mendadak suara langit menggelegar...
Pesawat dari neraka datang lagi...
Diikuti dentuman keras terdengar...
Serasa dekat di telinga Ummi

Lalu tiba-tiba saja Ummi merasa khawatir denganmu...
Lalu bergegas keluar rumah seperti para tetangga
Ummi mencari tahu apa yang telah terjadi
Semua berlari ke arah pasar tempat kau pergi...
Ahmed putraku...

Lalu ummi melihatmu terkapar di jalan...
Diantara raga-raga tak bergerak lainnya
Kau sekarat disana...Tanganmu saja yang bergerak
Ahmed putraku...
Ummi spontan membopongmu mencari pertolongan.
Di mulutmu hanya ada suara...
Suara yang sangat kita kenal...
"Allah! Allah! Allah! Allah!"

Lirih Lemah...
Tapi menembus kuat hingga langit tertinggi
Dan Allah ternyata memberi cinta di pagi ini padamu
Juga pada Ummi lalu kubisikkan kata di telingamu,

"Putraku tersayang, Sampaikan pesan Ummi pada Abimu di syurga bahwa ummi akan lanjutkan perjuangan kalian .
Ummi akan teruskan perlawanan kalian.

Selamat jalan Ahmed anakku terkasih
Selamat jalan syahidku cintaku

Ternyata Allah telah memanggilmu pagi ini
Biarkan Ummi menangis terakhir kalinya
mengantarmu pergi ke taman kehidupan sebenarnya
dimana Abimu menunggu di pintu gerbangNya
Tunggu Ummi ya nak, tunggu
Kita kelak akan bersama lagi seperti dulu …

Laa ilaaha illallah Muhammadarrasuulullah
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun…"

♥ Bismillahirrahmaanirrahiim ♥

(SUNGGUH SAYA MENANGIS , TUBUHKU MERINDING KALA BACA INI !!! Kisah serangan udara tentara Israel kepada penduduk Palestine)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim ...

Ahmed putraku...

Ummi tak tahu kenapa pagi ini kau bersikeras
pergi ke pasar untuk belanja dapur kita
Dimana biasanya Ummi yang melakukannya
katamu,"Biar Ummi di rumah,
Ummi mengaji saja di kamar
Biar Ahmed yang pergi ke pasar
Sekali ini saja."
Kau sangat bersikeras ...Ahmed putraku
Ummi tak ada prasangka padamu
Lelaki kecilku yang dibanggakan Abimu juga aku

Lalu kau pun pergi membawa keping logam tersisa
Untuk ditukar dengan apa saja sekedar hidup hari ini
Ummi lalu kembali larut dalam ayat Quran tercinta kita...
Kemudian mendadak suara langit menggelegar...
Pesawat dari neraka datang lagi...
Diikuti dentuman keras terdengar...
Serasa dekat di telinga Ummi

Lalu tiba-tiba saja Ummi merasa khawatir denganmu...
Lalu bergegas keluar rumah seperti para tetangga
Ummi mencari tahu apa yang telah terjadi
Semua berlari ke arah pasar tempat kau pergi...
Ahmed putraku...

Lalu ummi melihatmu terkapar di jalan...
Diantara raga-raga tak bergerak lainnya
Kau sekarat disana...Tanganmu saja yang bergerak
Ahmed putraku...
Ummi spontan membopongmu mencari pertolongan.
Di mulutmu hanya ada suara...
Suara yang sangat kita kenal...
"Allah! Allah! Allah! Allah!"

Lirih Lemah...
Tapi menembus kuat hingga langit tertinggi
Dan Allah ternyata memberi cinta di pagi ini padamu
Juga pada Ummi lalu kubisikkan kata di telingamu,

"Putraku tersayang, Sampaikan pesan Ummi pada Abimu di syurga bahwa ummi akan lanjutkan perjuangan kalian .
Ummi akan teruskan perlawanan kalian.

Selamat jalan Ahmed anakku terkasih
Selamat jalan syahidku cintaku

Ternyata Allah telah memanggilmu pagi ini
Biarkan Ummi menangis terakhir kalinya
mengantarmu pergi ke taman kehidupan sebenarnya
dimana Abimu menunggu di pintu gerbangNya
Tunggu Ummi ya nak, tunggu
Kita kelak akan bersama lagi seperti dulu …

Laa ilaaha illallah Muhammadarrasuulullah
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun…"




Oktober 03, 2012

syahrini

0 komentar
“Edan!”
“Gak mungkin.”

“Kamu pasti ngarang.”
“Mana mungkin istrimu yang hamil, malah kamu yang disuruh…”
“Tapi ini benar, kok. Sungguh!” potong Misbah berusaha meyakinkan.

Misbah pantas ngotot, sebab masalah yang sudah memebelitnya beberapa hari belakangan ini, betul-betul membikin hidupnya tidak nyaman. Dan saat dia minta pendapat teman-teman kerjanya, mereka malah menganggab Misbah mengada-ada.

“Kamu pasti sudah lama gak ibadah yang bener, makannya jadi gampang ngawur,” Mas Putu yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan, akhirnya bersuara juga. Padahal biasanya, orang Bali satu itu tak gampang buka mulut kalau tak perlu benar.

“Kesurupan kok pengen mencium artis. Itu namanya kurang kerjaan,” bahkan yang sudah punya anak tiga biji, dan sudah pengalaman soal permintaan aneh dari istri yang sedang hamil, terus mencecar.
“Jadi … bagaimana?” Misbah mulai frustasi.
“Lupakan saja!”
“Begini!” Misbah coba meyakinkan lagi,”Istri saya gak mau makan, gak mau mandi, gak mau senyum apalagi ngomong, dan … pokoknya akan seenaknya, klau permintaannya gak saya penuhi!”
“Mis. Dimana pun di dunia ini, istri yang sedang hamil dan ngidam itu emang permintaannya macem-macem, semaunya dan gak dipikir lebih dulu,” ujar Umam, yang memang terkenal sabar dan toleran terhadap kesulitan orang lain.
“Tapi…”
“Tapi gak akan ada yang menyuruh suaminya untuk mencium perempuan lain. Apalagi perempuan itu bukan muhrim dan selebriti ngetop pula.”

Misbah garukgaruk kepala. Bingung.

Istri Misbah memang sedang hamil muda, dan ini anak pertama mereka. Sebetulnya laki-laki kalem berperawakan kecil ini sadar, istri yang sedang hamil memang suka minta yang aneh-aneh. Dan menurut keterangan, itu berhubungan erat dengan si jabang bayi.

Konon kabarnya juga, jika permintaan atau ngidamnya itu tak dipenuhi, maka anak yang lahir mulutnya akan selalu meneteskan air liur alias ‘ngiler’.

Misbah ingat, seorang temannya yang punya istri ABG pernah kelimpungan, gara-gara istrinya ngidam minta dibelikan rujak tumbuk. Kalau siang sih gampang mencarinya. Ini tengah malam, malah sedang enak-enaknya ngorok.

Untungnya setelah puter-puter keliling Jakarta, akhirnya si teman ini dapat juga. Maka dengan bahagia, rujak itu dipersembahkan pada istrinya. E… taunya, rujak itu Cuma diendus-endus, macam kucing menciumi bau ikan.

Terus teman Misbah yang lainnya, yang sekarang sukses jadi juragan mi ayam. Waktu ngidam, sang istri tidak maubersentuhan dengan air, alias ogah mandi, kecuali mandi di bawah air terjun, malam-malam pula. Edan, kan? Tapi toh tetap dilakoni. Dengan membawa mobil, ditemani sanak keluarganya, sang istri dibawa ke daerah Bogor yang banyak air terjunnya. Lalu… Byurrr!! Beres persoalan.

Masih banyak istri temn Misbah yang lain yang ngidamnya aneh-aneh. Tapi seaneh-anehnya mereka ngidam, menurutnya masih masuk akal.

“Lha saya? Masa’ istri saya ngidamnya, minta saya supaya mencium Syahrini,” Misbah menggerutu,”Mana mungkin! Jangankan mencium penyanyi cantik dengan bulu mata anti badai dan jambul katulistiwa-nya itu, menyentuhnya saja tentu tak boleh, karena saya sama Syahrini bukan muhrim.”

“Muhrim? Jangan sok!” begitu istri Misbah membantah, waktu laki-laki itu menjelaskan bahwa urusan cium mencium bibir perempuan bukan perkara mudah, kecuali yang memang sudah menjadi hak prerogatifnya.

“Lho iya. Kalau si Syahrini itu istri saya sendiri, sudah tentu saya uyek-uyek sampai lecek,” jawab Misbah.
Mendengar jawaban begitu, istri Misbah malah cemberut dan makin menjadi-jadi ngambeknya. Misbah mengalah. Tapi hatinya penasaran dan ingin tahu, kenapa istrinya yang baru dikawininya setahun itu ngidam aneh begitu.

“Mas, Syahrini itu penyanyi idolaku sejak dulu. Aku ingin anakku cantik, terkenal dan pinter nyanyi kayak dia,” jawab istri Misbah lugas.

MasyaAllah! Yang namanya idola itu mestinya kan orang yang keimanannya terjaga, Nabi Muhammad misalnya. Minimal, sahabat-sahabat beliau lah. Misbah ngebatin.

“Kenapa? Gak setuju?” istri Misbah meradang, saat melihat Misbah hanya bengong.
Misbah menarik napas.

“Istigfar, Dik!” ujar Misbah mengingatkan, “Punya anak itu mestinya berharap pinter ngaji, bukan pinter…”

“Apa salahnya, kalau anak kita pinter ngaji sekaligus juga pinter nyanyi?”

Misbah mati kutu.
Dan sekarang, saat Misbah minta pendapat teman-teman kerjanya, mereka malah bilang Misbah mengada-ada.

“Begini saja!” Binsar, teman Misbah yang kolektor gambar poster artis dan berharap suatu hari ketularan jadi artis juga, akhirnya member jalan keluar, “bagaimana kalau kau langsung datangi si Syahrini itu.”

“Lantas?”

“Bilang terus terang sama si Syahrini iu, soal permintaan istri kau.”

Misbah mikir.
“Kalau diizinkan mencium…” ujar Misbah ragu-ragu.

“Artinya kau beruntung!” Tukas Binsar

“Kalau gak diizinkan?”

“Artinya kau lebih beruntung!”

Lho! Misbah menepuk jidatnya. Asli, tidak mengerti.

“Kau kan bilang bilang, si Syahrini dengan kau itu kan bukan muhrim,’ jawab Binsar.

*****

Sepulang kerja, Misbah berniat bicara lagi dengan istrinya. Dia harus mengingatkan, bahwa keinginan istrinya betul-betul susah diwujudkan. Mana bisa dirinya yang cuman pegawai kelas rendahan dapat bertemu dengan selebritis kelas bintang. Kalau secara kebetulan, mungkin saja. Tapi jika sengaja ingin bertemu, apalagi ujuk-ujuk menciumnya, jangan-jangan dia langsung digelandang oleh polisi ke rumah sakit jiwa.

Tapi bagaimana kalau istrinya tetap ngotot dengan keinginannya?

Misbah bertekad untuk mencari penengah, mungkin mengadu pada mertuanya, atau memanggil guru ngaji tempat biasa sang istri berta’lim. Pokoknya harus ada yang bicara dan mengingatkan.
Kalau istrinya tetap ngotot, bahkan pakai embel-embel mengancam segala?

Mungkin saran si Binsar perlu juga ia pertimbangkan.

Misbah berdiri di depan pintu. Mulutnya belum juga mengucap salam. Dia masih berharap, istrinya mau mengganti keinginannya dengan ngidap yang lain. Jujur! Dia bukan takut dipukul oleh pengawal si Syahrini itu, atau ditangkap polisi dengan tuduhan pelecehan. Tidak. Bukan itu! Yang Misbah takutkan hanya Allah.

Selama ini dia sudah menjaga dirinya sekuat mungkin dari hal-hal yang bukan haknya. Bahkan perjodohannya dengan sang istri, dilaluinya hanya dengan sesekali berkenalan. Untungnya Allah menumbuhkan rasa cinta di hatinya, juga di hati istrinya. Jadi bagaimana mungkin, dia sekarangmelanggar apa yang selama ini ia jaga.

Tapi belum juga Misbah mengucap salam, pintu sudah terbuka. Di depannya kini berdiri istri Misbah. Wajahnya cerah. Dandanannya rapih. Malah wajah halusnya dilapisi sedikit bedak. Jilbab dan bajunya bahkan terlihat baru disetrika.

Tentu saja Misbah heran. Dia mencubit lengannya sekali. Sakit. Dua tiga kali semprul! Kulitnya malah lecet. Ini artinya dia tidak sedang bermimpi, apalagi salah masuk kamar orang lain.
“Kok gak mengucap salam?”

Misbah tergagab, “Oh.. iya.. assalamu’alaikum..” istri Misbah menggandeng Misbah yang masih terbengong-bengong dengan perubahan itu. Sementra, sambil berjalan Misbah diam-diam mencium bagian belakang julbab istrinya. Hmm, betul. Ini bau khas istrinya.

“Duduk!” kata istri Misbah.

Misbah menurut, bagai kerbau tercucuk hidungnya.

“Mau minum apa salat dulu?”

Misbah yang masih keheranan, menatap istrinya dengan seksama. Yang diperhatikan Cuma senyam-senyum. Selang beberapa saat, Misbah juga tersenyum. Dia peluk istrinya. Dia kecum dengan lembut kening, hidung dan pipi istrinya, yang sekarang wangi sabun mandi.

Alhamdulillah. Dalam hati Misbah mengucap syukur. Rupanya sang istri sudah sadar, bahwa keinginannya agar Misbah mencium Syahrini, bukan Cuma aneh tapi juga sulit diterima dari sudut manapun.

“Mas. Kok ditanya diam begitu?”

Jawabnya, Misbah mencuil hidung istrinya yang tak seberapa mancung.

“Ada berita menggembirakan. Mau denger? Ujar istri Misbah lagi.

Saya sudah tahu. Jawab Misbah dalam hati. Kamu gak akan menyuruh saya menemui dan mencium si Syahrini lagi, kan?

“Mask ok diam saja? Mau denger atau nggak?”

Misbah mengangguk.

Istri Misbah lebih mendekat, “Sekarang saya gak bakal menyuruh Mas menemui Syahrini lagi!”

“Kenapa?” Misbah pura-pura terkejut, padahal hatinya girang banget, “kata teman saya gampang kok menemui penyanyi ngetop itu.”

“Gak perlu!”

“Yakin?”

“He’eh!”

Alhamdulillah…

“Gantinya…” istri Misbah melanjutkan, matanya mengerling dengan genit.

“Apa?”

“Saya sudah menghubungi stasiun televisi.”

“Lantas?” Misbah penasaran juga. Kok bisa-bisanya si istri berhubungan dengan orang TV. Apa sekarang dia ngidam mau ikutan main sinetron? Atau kuis?

“Terus saya cerita sama orang-orang itu. Dan keinginan saya dikabulkan.” Ujar istri Misbah gembira.

“Keinginan? Maksutnya?” Misbah makin susah menebak.

“Syahrini bakal datang ke rumah kita!”


*****
“Gak mungkin!” bantah mas Putu.

“Memangnya si Syahrini itu artis kelas jalanan, mau saja disuruh mampir ke rumahmu?” Barkah ikut-ikutan menolak percaya.

“Kenyataannya begitu kok,” jelas Misbah.

“Apa kamu pakai ilmu pellet?”

“Gak. Demi Allah deh!”

“Gimana caranya, tampang kamu yang ngepas gitu, bisa ngundang penyanyi yang Cuma bisa kesaing sama Ashanti itu?”

“Bukan saya yang ngundang, Mas.”

Lho! Teman-teman Misbah terkejut.

“Terus siapa yang ngundang? Apa kelurahan sekalian buat meramaikan acara tujuh belas agustusan?”

“Bukan juga!”

Misbah lalu menjelaskan perubahan mendadak yang terjadi pada istrinya, termasuk soal menghubungi sebuah stasiun TV. Misbah pun sama seperti teman-temannya yang lain. Mulanya tidak percaya. Tapi masalahnya sekarang bukan percaya atau tidak. Tapi bagaimana kalau si Syahrini itu benar-benar datang?

Misbah diam. Mas Putu, Barkah dan yang lainnya pun idem. Baru setelah kopi di gelas mereka tandas, Binsar bicara.

“Menurutku masuk akal!”

“Alasannya?” Tanya Barkah.

“Artis sekarang kan ulahnya memang sering aneh. Bahkan tidak jarang, untuk mendongkrak popularitas mereka yang mulai jeblok, mereka tak segan melakukan hal-hal ajaib dan memalukan untuk mengundang perhatian masyarakat.”

“Aku tetap gak percaya!” Barkah ngotot.

“Kenapa?”

“Tetanggaku pernah ngundang artis untuk merayakan ulang tahun anaknya. Memang sih si artis itu belum ngetop. Tapi jangankan datang, dihubungi lewat telpon saja susahnya setengah mati.”

“Sekarang masalahnya jadi lebih serius. Bukan si Syahrini itu bisa datang atau tidak, tapi bisa gak Misbah mencium dia untuk memenuhi keinginan aneh istrinya?” Tanya Mas Umam.

“Aku kira bisa, para artis kan biasanya gampangan,” jawab Barkah.

“Heh. Bacot kamu dipelihara sedikit dong!” omel Mas Putu.

“Jangan su’udzon gitu,” Misbah menengahi, dia tidak mau persoalan ngidam istrinya menimbulkan akibat buruk di kalangan teman-temannya, “saya memang berharap si Syahrini itu datang, tapi sama sekali gak puna keinginan buat menciumnya.”

“Gimana kalau digantikan?” celetuk Binsar.

“Maksutnya?”

“Biar aku saja yang meniumnya!”
Hush!!

*****
Akhirnya hari yang ditunggu itupun tiba.

Rumah Misbah yang sumpek dan sepi sekarang jadi meriah. Di depan gang menuju rumahnya dipasangi umbul-umbul setinggi empat meter. Plus sebuah spanduk besar bertuliskan : SELAMAT DATANG SYAHRINI, IDOLAKU!

Semua tetangga yang tahu kalau tempat Misbah akan kedatangan tamu terkenal, pun jadi bermunculan, lengkap dengan make’up dan pakaian tidak kalah ngartis. Maklum nanti kan disyuting masuk TV.
“Kan bakal ketemu orang ngetop,” begitu alasan seorang tetangga Misbah.

“Yang ginian ga setahun sekali,” tetangga yang lain ikut menimpali.
“Sekali-sekali niru lagaknya orang beken,” kata yang lain pula.

Teman-teman kerja Misbah juga sudah menunggu dengan pakaian yang sama bagusnya dengan pakaian lebaran. Sebagian dari mereka menunggu di mulut gang, sebagian lagi siap menyambut di depan pintu.
Istri Misbah pun tak kalah rapih dan cantiknya. Perempuan itu mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan belum pernah dipakai. Minyak wangi yang tak pernah dia sentuh sejak ngidam, kini disemprotkan lagi ke beberapa bagian tubuhnya.

Tak jauh dari istri Misbah, duduk Misbah didampingi Pak RT dan ketua karang taruna, yang dengan sukarela, siap menjadi juru bicara.

Menjelang siang, seorang perempuan muda yang cantik, dengan make’up tebal, bulu mata anti badai dan tatanan rambut ala gorong-gorong Sudirman muncul. Di belakangnya beberapa orang bodyguard dan kru stasiun TV, juga ikut mengawal. Perempuan cantik berbaju pink itu tersenyum manis. Berjalan dengan anggun dan langkah kali yang diatur sedemikian rupa melewati kerumunan orang-orang.

Dari kejauhan, istri Misbah takjub memandangnya. Tetangga-tetangga Misbah bengong. Teman-teman Misbah ternganga. Semua tak menyangka kalau Syahrini, pelantun lagu “Sesuatu” yag lagi naik daun itu benar-benar muncul di depan mereka.

Maka dalam hitungan detik, setelah sempat terjadi kevakuman suasana akibat rasa kaget yang amat luar biasa, segera timbul suara-suara kekaguman.

“Wah, cantiknya…”
“Kayak bidadari…”
“Serius. Saya gak percaya dia itu cantik sekali kalau dilihat langsung.”
Sementara, teman-teman Misbah yang juga mengagumi kecantikan Syahrini, juga mulai berkerumun dan berbisik-bisik.
“Betul kan aku bilang, si Syahrini itu pasti datang.”
“Tapi apa bisa teman kita mencium si Syahrini itu? Kan sesuatu banget gitu deh.”
“Saya kira gak!”
“Aku kira bisa.”
“Ya sudah kita lihat saja.”

Di sudut lain, Misbah yang merasa wajib menjadi tuan rumah yang baik, segera menyambut tamunya. Tanpa menunggu aba-aba, dia cepat-cepat menghampiri Syahrini. Wajahnya dipasang ramah meskipun terlihat kikuk. Mulutnya dibuat tersenyum.

“Assalamu’alaikum…” ujar Misbah.
Syahrini memandang Misbah, lalu menjawab salam.

“Saya Misbah..” anak muda itu memperkenalkan diri. Wajahnya dia tundukkan. Bukan grogi, apalagi malu. Misbah hanya meyakini satu hal, untuk selalu menghindari apa yang bukan menjadi haknya, “saya…”

“Saya sudah tahu kok,” potong Syahrini, “Istri kamu kan yang sedang ngidam dan mengundang saya? Sesuatu banget ya?”

“Ya!” jawab Misbah, wajahnya tetap tertunduk, “Saya mengucapkan terimakasih karena… Mbak mau datang ke tempat saya.”

Syahrini tersenyum. Melihat sikap dan keramahan Misbah, timbul keheranan dalam hati bintang cantik itu. Sebab yang sering terjadi para penggemarnya selalu menatap dengan pandangan yang tidak sopan. Bahkan tak jarang yang bersikap kurang ajar.
Tapi pemuda yang ada di depannya itu betul-betul berbeda. Aka diam-diam muncul keinginan Syahrini untuk menggoda.

“Istri kamu pasti cantik!”

“I… iya … Alhamdulillah…,” jawab Misbah.

Melihat Misbah yang tak menoleh sedikitpun ke arahnya, Syahrini mendekatkan mulutnya ke telinga Misbah dan berbisik.

“Cantik mana dengan saya?”

Didekati Syahrini begitu, Misbah tambah kikuk.
“Mbak cantik sekali.. tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Bagi saya … e .. istri saya yang paling cantik…”

Syahrini tertawa ngikik, sampai orang-orang yang melihatnya kaget, sebab tak mengerti apa saja yang dibicarakan mereka, dan kenapa tiba-tiba kedua orng itu kelihatan gembira gitu.
“Ya, sudah. Yuk, kita masuk!” ujar Syahrini, lalu dengan akrab menggandeng tangan Misbah, yang semakin terlihat serba salah.

Berbeda dengan Misbah dan Syahrini, teman-teman dan tetangga Misbah malah jadi gak habis pikir. Bagaimana mungkin Misbah yang kere, yang tinggalnya saja di gang sempit, bisa berkenalan dan berakkrab-akrab dengan bintang dan penyanyi terkenal?

Tapi pertanyaan itu hanya mampir sebentar di kepala mereka. Sebab tiba-tiba, entah karena iri pada Misbah atau karena hal lain, tanpa bisa dicegah semua orang meluruk ke arah Syahrini. Ada yang berebut mencium tangannya. Ada yang mencubit. Ada yang mencolek pipi, badan, bahkan dagian belakang tubuhnya. Ada yang hanya memandangi dari kejauhan dengan kagum. Beberapa orang yang sudah menyiapkan buku, segera menyodorkan agar ditandatangani.

Menerima sambutan begitu, Syahrini girang banget. Dia sapa mereka satu-satu sambil mengucapkan “Alhamdulillah ya sesuatu banget?” dia salami semua penggemarnya dengan ramah. Satu-dua orang malah diberi ciuman di pipi kiri kanan. Semua bergembira. Semua tertawa. Tetangga-tetangga Misbah. Pak RT. Ketua Karang taruna. Teman-teman Misbah. Tidak terkecuali Misbah. Meski dia tetap menahan diri.

“Mis, cepat kau cium si Syahrini itu. Mumpung ramai!” bisik Binsar, yang tau-tau sudah berdiri di samping Misbah.

Misbah melotot ke arah Binsar.

“Aduuuhh. Kapan lagi? Ini kesempatan.”

Misbah tetap tak mau. Baginya, ada atau tidak ada kesempatan, prinsip tetap harus dipegang teguh.
Binsar tiba-tiba mendekati Syahrini dan berbisik. Syahrini langsung menatap Misbah. Lalu pelan-pelan mendekati pemuda itu. Misbah yang sadar apa yang bakal terjadi, cepat-cepat bergeser menjauh.
Tapi mendadak saja beberapa orang memegangi Misbah. Misbah berontak, namun tak berdaya. Dan hanya dalam hitungan detik, sebuah ciuman mendarat di pipi kiri dan kanan Misbah. Meninggalkan bekas berwarna merah menyala. Orang-orang pun bersorak.

Misbah kaget, malu dan merasa diremehkan. Tapi Misbah tak bisa menyalahkan siapapun. Bukankah istrinya yang telah mengundang si Syahrini itu?

Yang juga tak kalah terkejutnya tentu saja istri Misbah. Melihat suainya mendapat ciuman, bahkan semua orang menyambut adegan itu dengan berteriak kegirangan, istri Misbah yang tidak tahu persoalan sebenarnya jadi cemburu. Dadanya tiba-tiba terbakar.

“Astagfirullah… Astagfirullah…” kata istri Misbah berusaha menenangkan diri. Tapi hati calon ibu muda itu sudah terlanjur dipenuhi rasa cemburu. Lalu tanpa basa-basi lagi, dia menghambur ke dalam dan langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.

Entah kenapa, tiba-tiba saja perempuan itu merasa marah kepada semua orang ngetop, pemain sinetron, diva, bintang tenar dan apapun yang berbau selebritis…




***Dimuat dengan judul asli “Krisdayanti” di kumpulan cerpen terbitan LingkarPena Publishing House berjudul “Kangen” karya Asma Nadia&Birulaut.

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

about me !!!

Foto saya
I was not pretty, I'm not smart, not rich, not talented, but who obviously I was not bad. and I am not a bad person especially cruel.

follow me on facebook

clock